Pedagang Pasar Legi Keberatan Boyongan sebelum Natal

105

PONOROGO – Alarm bahaya berbunyi. Relokasi Pasar Legi yang dijanjikan 24 Desember batal terealisasi. Pedagang menyuarakan permintaan tetap berjualan di lokasi yang sama pada momen hari raya Natal, Selasa mendatang (25/12). Di samping, progres pasar sementara tak kunjung siap. ‘’Awalnya menyepakati, sekarang mengajukan relokasi diundur. Pedagang mintanya kapan,’’ tanya balik Kepala Disperdakum Addin Andanawarih kemarin (17/12).

Pengajuan mundurnya relokasi, kata Addin, disuarakan pedagang dari eks stasiun dan pengadilan. Sementara, pedagang Pasar Legi tidak mempersoalkan rencana awal boyongan sesuai yang dijadwalkan. Kemarin suara itu sampai juga ke disperdakum. Lantaran ratusan pedagang mengajukan relokasi diundur, mau tidak mau harus dipertimbangkan. ‘’Kami akan tetapkan tanggal pastinya besok (hari ini, Red). Setelah ini, tidak bisa mundur lagi,’’ ujarnya bakal menggelar rapat dengan tim relokasi.

Boleh jadi, relokasi merupakan beban pekerjaan superberat yang kini diemban organisasi perangkat daerah (OPD) yang dikepalai Addin. Selain pedagang, disperdakum juga harus memastikan pasar sementara di lahan bekas RSUD yang menjadi tujuan relokasi siap. Pasalnya, hingga kemarin belum ada tanda-tanda PT Bumi Lindung selaku rekanan pelaksana kelar menyelesaikan proyek. Bobot pekerjaan terberat, kata Addin, pada pemasangan atap. Keseluruhan, progres tertahan di angka 90 persen. ‘’Kami sudah konsultasi dengan rekanan. Bisakah pedagang pindah saat pekerjaan belum selesai. Mereka (rekanan, Red) bilang pekerjaan tidak akan mengganggu proses itu,’’ tuturnya.

Disperdakum berpacu dengan waktu. Kamis mendatang (20/12) Addin mengklaim dipanggil Kementerian PUPR terkait rencana pembangunan ulang Pasar Legi yang mendapat gelontoran APBN Rp 244 miliar. Menurut Addin, kementerian yang digawangi Basuki Hadimuljono memasang tenggat waktu pengosongan Pasar Legi di akhir tahun. Januari, pasar harus rata dengan tanah sebelum mulai dibangun di awal tahun. ‘’Jadi, relokasi tidak boleh lewat akhir tahun,’’ sebut Addin.

Kemarin, disperdakum pun batal melibatkan pedagang dalam rapat pembahasan persiapan relokasi. Rapat besar rencananya digelar Rabu (19/12). Wakil rakyat sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan disperdakum terkait keseriusan relokasi. Wakil Ketua DPRD Miseri Efendi menilai, relokasi merupakan kebijakan besar. Sebab, melibatkan nyaris dua ribuan pedagang. ‘’Komunikasi disperdakum dengan pedagang seharusnya bisa lebih baik untuk mengurai persoalan-persoalan. Itu akan membuat pedagang merasa diorangkan,’’ imbaunya.

Berbagai persoalan itu, lanjut Miseri, harus diurai satu per satu. Rekanan juga harus terus didorong mempercepat pengerjaan proyek senilai Rp 6,8 miliar di lahan bekas RSUD. Sembari disperdakum membuka komunikasi dengan para pedagang dalam proses persiapan menuju relokasi. Jika keduanya dapat dieksekusi dengan baik, Miseri percaya pembangunan ulang Pasar Legi tidak akan terdampak. ‘’Pematangan persiapan ini perlu melibatkan berbagai OPD. Untuk memastikan kelancarannya,’’ pungkasnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here