PDAM Lawu Tirta Cek Kadar Air

54

MAGETAN – Penanganan cepat diterapkan oleh PDAM Lawu Tirta dalam menyikapi keluhan para pelanggannya. Termasuk saat mereka menerima laporan dari warga Kawedanan dan Bendo yang mengaku gatal-gatal setelah mandi menggunakan air PDAM.

Dirut PDAM Lawu Tirta Magetan Welly Kristanto mengatakan kejadian itu dialami oleh masyarakat di Desa Rejosari, Jambangan, Selorejo, Genengan, dan Pojoksari. Sejak laporan itu pihaknya terima, personel PDAM langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengidentifikasi penyebab gejala gatal-gatal tersebut. ‘’Kami menerjunkan tim gabungan dari bagian produksi PDAM dan tim laborat Politeknik Kesehatan Lingkungan Kemenkes Subaraya,’’ terangnya.

Dalam proses identifikasi tersebut, lanjut dia, setidanya ada sekitar 70–100 rumah yang akan diambil sampel airnya. Selanjutnya, sampel itu dibawa ke laboratorium untuk dicek perihal kandungan bakteriologi dan kimia terbatas.

Menurut Welly, untuk mengetahui hasil laboratorium itu butuh waktu sekitar dua pekan. Karena harus melalui tahapan fermentasi. Serta dicek kondisi pH (derajat keasaman) dan fisik airnya. ‘’Kondisi fisik air bisa dilihat kasar mata. Terutama dari warnanya,’’ katanya.

Yang jelas, dari hasil identifikasi awal disebutkan bahwa penyakit gatal-gatal warga itu bukan disebabkan karena air PDAM. Namun, dipicu dari kondisi tempat penampungan air warga yang dalam posisi terbuka. Sehingga, membuat polutan masuk dan menyebabkan gatal-gatal.

Sebab, menurut Welly, apabila air mengalir dari kran secara langsung tidak meyebabkan gatal. ‘’Di sekitar rumah penduduk juga didapati ulat bulu. Banyak kemungkinan yang menyebabkan penyakit gatal-gatal,’’ ungkapnya.

Welly mengungkapkan faktor lain penyebab penyakit itu adalah perubahan musim. Apalagi, saat ini terjadi peralihan dari musim hujan ke kemarau. Bisa jadi karena ada riwayat alergi yang diderita oleh masyarakat.

Karena itu, petugas juga mengidentifikasi warga yang merasakan gatal tersebut. Sebab, terjadi proses kimia di dalam pipa yang menjadi pemicu alergi tersebut. Seperti pada ujung pipa terdapat endapan kaporit dan lumpur. Sehingga terjadi reaksi kimia menjadi asam sulfat dan asam klorida. ‘’Nah, ini jika tersentuh kulit terasa panas dan gatal. Tapi, hanya sesaat,’’ terangnya.

Untuk itu, Welly menyarankan agar warga menggunakan langsung air PDAM saat mandi. Tanpa harus menampungnya terlebih dahulu pada bak penampungan. Pasalnya, tidak ada masalah pada air baku dan terjadinya perubahan kimia. Air yang dialirkan ke rumah-rumah warga tersebut hanya mendapatkan penambahan sedikit kaporit. Itu pun gunanya agar tidak tumbuh bakteri selama air mengalir di pipa menuju rumah-rumah. ‘’Air baku dari sumur dalam, tidak ada yang terbuka,’’ ujarnya.

Namun, jika memang hasil lab menyebutkan bahwa penyebab gatal-gatal itu dari air PDAM, Welly menyatakan tentu akan ada tindak lanjut. Seperti melakukan kajian kembali ke laboratorium ITS dan PTKL Surabaya.

Meski demikian, dia mengaku tanpa adanya keluhan dari warga, pihaknya rutin memeriksa kondisi air. Dua bulan sekali selalu ada pemeriksaan laboratorium untuk memastikan tingkat keamanan air ke pelanggan. ‘’Terlepas ada kasus atau tidak, kami rutin memeriksa. Dan kami akan bertanggungjawab,’’ pungkasnya. (bel/her/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here