Pasutri Rohmin-Widodo Kini Tak Memiliki Rumah

109

Rohmin dan Widodo harus menahan pilu. Rumah pasangan suami istri (pasutri) itu ambruk usai terendam banjir tiga hari. Satu-satunya pilihan saat ini adalah kembali menumpang di rumah orang tua.

—————-

MENGENAKAN kaus oranye, siang itu Rohmin tampak termangu di teras sebuah rumah masuk Dusun Sangen, Desa Simo, Kwadungan. Dia duduk sembari mendekap kedua kakinya. Dagu ditopangkannya ke salah satu lutut. Matanya mengarah ke tanah, entah apa yang sedang dipandang. ‘’Bapak sedang mandi. Mari, saya antar,’’ kata Rohmin sedikit terkejut.

Perempuan 44 tahun itu lantas beranjak dari tempatnya duduk. Langkahnya menuju sebuah gang dengan jalan tanah yang berlumpur. Rohmin berkali ulang berbelok mencari tapakan tak seberapa becek.

Sembari berjalan, dia menceritakan banjir yang merendam desanya beberapa waktu lalu. Air kecokelatan berarus kencang merendam rumahnya tiga hari berturut-turut, lalu roboh. ‘’Yang sana tadi rumah orang tua,’’ ujar Rohmin sambil berbalik badan.

Sampai di ujung gang, tampak beberapa potong baju dan sebuah handuk tergantung di bilik berbahan anyaman bambu. Kamar mandi dadakan yang sengaja dibuat warga setempat selepas banjir surut.

Mendengar panggilan istrinya, kepala Widodo yang basah nongol dari bilik tak seberapa tinggi itu. Selemparan batu dari tempat pria itu mandi, tampak beberapa rangkaian besi calon tiang sebuah rumah. ‘’Itu (bangunan fondasi rumah, Red) rencananya untuk anak. Rumah saya di belakangnya,’’ terang Rohmin.

Sesaat setelah melewati fondasi selutut orang dewasa itu, sesekali bau tak sedap menyeruak. Sementara, mata disuguhi robohan atap rumah sarat beraneka sampah plastik. Bangunan seluas 9×6 meter tersebut rata dengan tanah. Reng-usuk bambu pada tepian atap dua sisi itu menyembul. Beberapa bagian sudah patah. ‘’Sepertinya empat ayam saya mati tertimbun,’’ tuturnya.

Tiang berupa jati utuh tergeletak berdampingan dengan pecahan-pecahan genting. Gawang pintu sekalian daunnya yang berbahan tripleks menambah sesak reruntuhan.

Melangkah hati-hati, Rohmin mengayunkan kakinya di gedhek bekas dinding yang sebagian bidangnya tertimpa atap. Sejurus kemudian, dia membungkuk. Genting yang masih utuh diambilinya satu per satu lantas ditaruh bertumpuk. ‘’Belum sempat memperbaiki. Barang-barang di dalam semua,’’ katanya.

Tumpukan genting meninggi, Widodo datang dengan berjalan setengah berlari. Dia buru-buru memperingatkan istrinya untuk turun dari atap. Pria 66 tahun itu melarang lantaran khawatir banyak paku.

Sang istri turun, ganti Widodo naik merampungkan sisa genting yang telanjur lepas dari rongga reng-usuk. Beberapa saat kemudian, keduanya menjauh dari reruntuhan. ‘’Namanya musibah. Tidak bisa ditolak datangnya,’’ ucap Widodo menegarkan diri sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya.

Kerut di wajah Widodo menyimpan pilu yang mendalam. Rumah yang dia impikan sedari dulu bersama istrinya kini tersisa puing-puing berserakan. Bahkan, belum ada tiga bulan dia menempatinya. Sebelumnya, pasutri ini menumpang di rumah orang tua. ‘’Sementara kembali ke rumah mertua lagi,’’ katanya.

Yang rusak, tentu harus diperbaiki. Namun, Widodo belum tahu pasti kapan akan membongkar dan membangun lagi rumahnya. Persoalan biaya kelewat pekat membayanginya untuk merehab bangunan yang baru ditempati awal Januari lalu itu.

Kendati demikian, dia tetap tersenyum menerima musibah yang dialaminya tersebut. Senyum sarat getir yang memperjelas kerut di pipi dan dahi pria dengan rambut tak lagi hitam ini. ‘’Baru mau sedikit senang punya rumah sendiri, sudah jadi seperti ini,’’ ujarnya pelan.

Rumah pasutri enam anak ini ambruk setelah semalaman terendam banjir. Kabar tersebut datang bersamaan salah seorang tetangga yang menyelamatkan seekor kambing milik Widodo. ‘’Sudah ambruk dan terendam air, saya tidak berani melihat rumah waktu itu. Katanya, kambing saya cuma kelihatan kepalanya dari celah atap. Alhamdulillah, masih hidup kambingnya,’’ terang pria yang kesehariannya bekerja serabutan ini.

Widodo benar-benar tak menyangka dengan apa yang terjadi dengan rumahnya yang terletak di tepian Bengawan Madiun itu. Atas musibah tersebut, pensiunan guru MTs ini mengambil hikmahnya. Entah kapan datangnya, dia bersama istri sepakat untuk tidak membangun rumah di tempat yang sama. ‘’Kalau ada rezeki, penginnya bangun rumah di tempat yang rencananya untuk anak ini. Yang agak jauh dari sungai,’’ ujarnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here