Pastikan Tak Ada Gesekan Pemilu Terbuka

53

Kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 sejatinya sudah dimulai sejak 23 September 2018 dan akan berakhir 13 April nanti. Namun, memasuki menit-menit akhir, para peserta pemilu dipastikan akan semakin gencar kampanye merebut suara para calon pemilih. Seiring memasuki kampanye rapat umum (terbuka) dan melalui media massa.

——————————-

MASYARAKAT harus terbiasa dengan pemandangan massa yang berkumpul di ruang-ruang terbuka mulai hari ini (24/3). Sebab, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai memberlakukan peserta pemilu untuk menggelar kampanye terbuka untuk calon presiden (capres) dan para calon legislatif (caleg). KPU memasang rambu untuk metode kampanye tersebut. ‘’Untuk mencegah gesekan, KPU RI mengatur zonasi kampanye rapat umum secara nasional,’’ kata Komisioner Divisi Hukum KPU Ponorogo Teguh Wiyono.

Ada dua zonasi. Masing-masing zona 17 provinsi. Setiap parpol berhak membawa jago capres dan caleg mereka dalam waktu dua hari di satu zona. KPU juga memastikan penyelenggaraan rapat umum tidak akan bertabrakan, antara yang digelar pemilu pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. ‘’Jadwal parpol harus selaras dengan di tingkat pusat. Semisal parpol A kampanye di Zona B pada 24-25 Maret. Parpol yang sama di Ponorogo juga boleh kampanye pada dua hari itu,’’ terangnya.

Selain rapat terbuka, peserta pemilu juga mulai bisa memanfaatkan media massa sebagai sarana kampanye. KPU hanya memfasilitasi kampanye media massa untuk parpol dan pemilu presiden (pilpres). Peserta pemilu, termasuk para caleg tingkat provinsi dan kabupaten/kota, dapat berkampanye melalui media massa secara mandiri. KPU juga memberi aturan main untuk metode itu. ‘’Alokasi fasilitasi kampanye hanya di KPU RI, KPU di daerah tidak memfasilitasi, jadi harus mandiri,’’ ujar Teguh.

Memasuki menit akhir, para peserta pemilu dipastikan akan lebih gencar kampanye. Yang paling rileks boleh jadi caleg tingkat kabupaten/kota. Sebab, jangkauan wilayah mereka tak begitu luas. Pengamat politik lokal Ponorogo Bambang Widiyahseno menilai, para caleg provinsi maupun pusat harus dapat memanfaatkan berbagai sarana kampanye untuk bisa mendongkrak suara mereka. ‘’Poster, baliho, spanduk itu walaupun banyak tapi belum tentu ada yang memilih lho,’’ kata wakil rektor III Unmuh Ponorogo itu.

Terkait kampanye rapat umum yang mulai digelar hari ini, kekhawatiran yang muncul adalah kondusivitas masyarakat. Sehingga, penyelenggara pemilu harus bersinergi dengan aparat keamanan, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk bersama menjaga kondusivitas daerah.

Di Ponorogo misalnya, 1.500 pasukan gabungan TNI, Polri, serta pemkab dan masyarakat disiagakan mengamankan bumi reyog dalam hajatan demokrasi lima tahunan kali ini. ‘’Kami berharap masyarakat Ponorogo dapat saling bahu-membahu menjaga kondusivitas,’’ ajak Kapolres Ponorogo AKBP Radiant. (naz/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here