Untuk Memastikan Desa Metesih Sarat Nilai Sejarah Butuh Proses Panjang

33
BATU KUNO: Sejumlah anggota komunitas HvM dan relawan budaya Desa Metesih, Jiwan, menunjukkan batu yang diduga peninggalan zaman kerajaan Jumat (19/7).

MADIUN – Upaya menyibak tabir kepastian Desa Metesih, Jiwan, Kabupaten Madiun, sarat nilai sejarah butuh proses panjang. Empat buah batu kuno yang didapati Komunitas Historia van Madioen (HvM) dan relawan budaya desa setempat perlu dikaji Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Sebelum mengerucut pada kesimpulan sebagai benda cagar budaya (BCB). ‘’Perlu proses dan waktu,’’ kata Kasi Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun Sugina Minggu (21/7).

Menurut dia, lingkup telaah dalam memutuskan sebuah BCB cukup kompleks. BPCB perlu mengidentifikasi jenis temuan itu hingga era peninggalan. Proses tersebut tidak bisa asal-asalan dan hasilnya harus jelas. Itu penting karena berkaitan terhadap tahapan selanjutnya. Misalnya, perlu tidaknya ekskavasi setelah teridentifikasi sebagai prasasti dari kerajaan tertentu. ‘’Bidang kebudayaan itu banyak pertimbangan dan semuanya harus jelas terlebih dulu,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Pihaknya telah menerima surat laporan dari HvM atas temuan empat buah batu kuno beberapa waktu lalu. Yakni, satu buah batu gilang yang ditengarai prasasti di Dusun Gendu. Juga dua buah lumpang dan satu buah yoni yang ditengarai berusia ratusan tahun di Dusun Koci. Jarak kedua lokasi yang kurang dari satu kilometer memperkuat indikasi sebagai peninggalan era kerajaan. ‘’Tetap kami tindak lanjuti meski batu itu bukan hasil temuan penggalian baru, melainkan sudah lama ada di lingkungan,’’ jelasnya.

Sugina menyampaikan, laporan HvM akan diteruskan ke BPCB dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur. Institusi tersebut yang berhak meneliti dan memiliki tim arkeolog. Namun, bahan data laporan ke pemprov perlu dilengkapi lebih dulu. Seperti dokumentasi lokasi, sketsa, dan ukuran batu hasil penghitungan lembaganya. Survei itu rencananya dilaksanakan pekan depan. ‘’Selain ke BPCB, hasil survei sebagai bahan laporan ke bupati,’’ paparnya.

Lanjut dia, BPCB cepat dalam merespons laporan benda yang ditengarai sarat nilai sejarah. Seringkali Balai Arkeologi Jogjakarta ikut turun meneliti. Hingga kini, total 207 BCB terdiri benda dan situs kuno tersebar di belasan kecamatan yang telah terinventarisasi. ‘’Kami akan mendata ulang cagar budaya di Kabupaten Madiun pada 2020,’’ pungkasnya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here