Pasien DBD Membeludak, Ruang Perawatan di RSUD Hardjono Overload

174

PONOROGO – Semakin banyaknya warga yang terjangkit demam berdarah dengue (DBD) membuat ruang di RSUD Hardjono overload. Di ruangan Delima misalnya. Dari 39 kamar yang tersedia tidak sanggup menampung 47 pasien kemarin (17/1).

Kendati tidak semua pasien anak yang dirawat di rumah sakit berpelat merah itu menderita DBD. Maya Laili, misalnya. Anak 13 tahun asal Pakunden, Ponorogo, itu harus menjalani perawatan di lorong ruang. Dia yang menderita talasemia itu harus bersabar menanti pasien lain keluar dari rumah sakit. ‘’Gak apa-apa, di sini dulu. Mudah-mudahan lekas ada ruang cadangan,’’ kata Sriyani, 50, nenek Laili.

Sementara itu, Muhammad Adila Fiza, 8, asli Desa Wringinanom, Sambit, bisa bernapas lega. Dia yang dinyatakan suspect DBD sudah diizinkan pulang ke rumah kemarin (17/1) setelah menjalani rawat inap sejak Senin (14/1). ‘’Alhamdulillah sudah boleh pulang. Semoga keadaan anak saya semakin membaik,’’ kata Pujiharianto, 39, ayah Fiza.

Namun, kekhawatiran Pujiharianto belum sepenuhnya sirna. Sebab, DBD telanjur mewabah di desanya. Dia pun berharap pemerintah setempat lekas mengambil tindakan tangkas agar jumlah penderitanya tak semakin bertambah. ‘’Perangkat desa harus tanggap. Terutama lurah. Bagaimana ini kok gak ada tanggapan,’’ keluhnya.

Menurut Pujiharianto, daerahnya sebenarnya sudah di-fogging. Namun, masih ada saja yang terjangkit. Bahkan, dia sudah melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) mandiri. ‘’Dari desa belum ada perintah, tapi kesadaran pribadi saja untuk membersihkan dan menjaga kebersihan lingkungan,’’ ujarnya.

Kabid Pelayanan Medik RSUD Dr Hardjono Dr Siti Nurfaidah membenarkan tidak semua yang dirawat di ruang tersebut menderita DBD. Untuk pasien DBD ditempatkan khusus di ruang yang sudah dilengkapi dengan sarana khusus. ‘’Kami pastikan untuk pasien DBD sudah mendapat kamar. Tapi, karena jumlahnya cukup tinggi, sehingga pasien yang datang harus cukup bersabar,’’ kata Siti.

Siti membeberkan anak yang terjangkit DBD dari awal bulan hingga saat ini mencapai 41 pasien. Sebanyak 25 anak di antaranya sudah diperbolehkan pulang. Bahkan, satu anak dinyatakan meninggal dunia sebagaimana yang terjadi pengujung tahun lalu. ‘’Pasien khusus DBD meningkat drastis di awal tahun ini,’’ tegasnya.

Terkait pasien khusus anak yang membeludak, pihaknya telah mengantisipasi dengan menyiapkan ruangan cadangan. Pihaknya juga memastikan pasien yang dirawat di lorong tetap mendapat pelayanan medis secara optimal. ‘’Itu bersifat sementara meskipun secara fasilitas mungkin kurang nyaman bagi pasien. Obat dan kebutuhan medis lainnya kami usahakan optimal,’’ janjinya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here