Pasien DBD di RSUD Dolopo Melonjak 13 Kali Lipat

156

MADIUN – Pasien demam berdarah dengue (DBD) di RSUD Dolopo membeludak. Lima ruang rawat inap yang disediakan rumah sakit pelat merah itu tidak cukup menampung gelombang pasien yang berdatangan kemarin (4/2). Mereka terpaksa ditempatkan di lorong untuk sementara waktu sembari menunggu pasien yang telah sembuh keluar. ‘’Anak saya masuk pukul 09.00 tadi (kemarin, Red),’’ kata Bambang, warga Desa Rejosari, Kebonsari.

Bambang menemani Muhammad Niko Yuafi, anaknya, yang tengah terbaring lemas di tempat tidur. Lokasinya di ruang terbuka diapit Ruang Delima dan Mawar. Ruangan yang sama-sama diisi para pasien DBD. Ada dua pasien lain bernasib serupa dengan bocah lima tahun itu. Bedanya, keduanya bisa berbaring tanpa melihat wira-wiri keluarga pasien dan perawat karena tertutup kelambu. ‘’Semoga bisa segera dipindah ruangan biar bisa istirahat dengan tenang,’’ harapnya.

Direktur RSUD Dolopo Purnomo Hadi menyatakan, penanganan pasien di lorong sifatnya situasional. Peningkatan jumlah penderita yang harus dirawat sangat signifikan awal tahun ini. Hingga siang kemarin, tercatat ada 23 pasien DBD diopname. Bila diakumulasikan, total 132 pasien dirawat dalam kurun Januari dan pekan pertama bulan ini. Jumlah tersebut melonjak 13 kali lipat dari tahun sebelumnya di periode sama. Yakni, hanya delapan pasien DBD. ‘’Bulan lalu pernah dalam sehari ada 40 pasien masuk,’’ ungkapnya kepada Radar Mejayan.

RSUD Dolopo telah menyikapi lonjakan pasien DBD awal tahun ini dengan menambah 19 tempat tidur. Belasan extra bed itu dibagi di lima ruangan dengan jumlah menyesuaikan luasannya. Yaitu, empat ruang rawat inap dan satu tempat khusus disiapkan selama terjadi lonjakan kasus DBD. Bila pada akhirnya dirasa belum cukup karena jumlah pasien kelewat banyak, pihaknya mengoptimalkan ruang di lorong-lorong. ‘’Pelayanan sudah semaksimal mungkin. Kami harap keluarga pasien bisa memahami,’’ ujarnya sembari menyebut 95 persen pasien asal Kabupaten Madiun.

Tidak hanya menambah sarana dan prasarana (sarpras), RSUD Dolopo juga membuat kebijakan menambah petugas jaga dan rawat selama fase kritis masih berlangsung. Setelah melaksanakan tugas pagi hingga siang, para perawat di poliklinik diminta membantu merawat pasien DBD malamnya. Sistem yang dipakai adalah sif. Meski pasien berlipat, kebutuhan obat-obatan masih tercukupi. Termasuk trombosit dan habis pakai lainnya. ‘’Belum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,’’ tutur Purnomo.

Dia berjanji tidak akan menolak pasien DBD masuk kendati ada keterbatasan ruangan. Juga tidak membeda-bedakan perawatan, baik yang di lorong maupun ruangan. Perawat yang tugas malam juga harus bekerja sepenuh hati. Purnomo memberikan penuturan bahwa pasien yang dirawat itu adalah keluarganya sendiri. ‘’Semua harus tertangani dengan baik,’’ tandasnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here