Pasar Milik Pemkab Ngawi Belum Satu Pun Dilengkapi Hidran

7

NGAWI –  Dinas Perdagangan Perindustrian dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi merasa kecolongan atas kejadian kebakaran Pasar Beran, Minggu lalu (14/4). Pun, kejadian itu membuat organisasi perangkat daerah (OPD) tersebut berpikir ulang terkait penataan pasar. ‘’Semua harus ditertibkan instalasinya,’’ kata Kabid Tata Kelola Sarana dan Prasarana (TKSP) DPPTK Rochimin kemarin (15/4).

Rochimin mengaku langsung datang ke lokasi saat peristiwa kebakaran itu terjadi. Juga sempat berdialog dengan korban maupun pedagang lain. Terutama mengenai penyebab kebakaran, sekaligus langkah antisipasi agar tidak terulang. ‘’Terdekat, kami akan surati PLN untuk minta agar instalasi listrik semua pasar ditata lagi,’’ ungkapnya.

Dia menyebut, kejadian kebakaran pasar selama ini nyaris semuanya akibat hubungan arus pendek alias korsleting. Termasuk peristiwa yang terjadi di Pasar Beran dua hari lalu. Pun, pada 2013 lalu salah satu pasar desa di Ngawi terbakar gara-gara masalah serupa. ‘’Memang peristiwa kebakaran pasar di Ngawi termasuk jarang, tapi sebagian besar penyebabnya korsleting listrik,’’ urainya.

Selain meminta bantuan PLN menata ulang instalasi listrik, pihaknya bakal mengusulkan pengadaan hidran di semua pasar milik daerah. Sebab, sampai saat ini, dari 20 pasar yang dikelola pemkab setempat belum satu pun yang dilengkapi hidran. Padahal, fasilitas itu sangat dibutuhkan ketika terjadi peristiwa kebakaran. ‘’Selama ini baru APAR (alat pemadam api ringan, Red) yang ada,’’ ujarnya.

Mengapa belum dilengkapi hidran? Rochimin berdalih lantaran pasar-pasar tradisional milik daerah itu dibangun saat belum ada ketentuan mengenai kelengkapan fasilitas hidran untuk mengantisipasi kebakaran. ‘’Sebenarnya ada bantuan untuk rehab pasar dari pemerintah pusat, tapi tidak bisa digunakan untuk pengadaan hidran,’’ jelasnya.

Dia mengatakan, pengadaan hidran harus melalui APBD sebagai dana pendamping program bantuan rehab pasar tradisional dari pemerintah pusat. Masalahnya, selama ini pemkab masih memprioritaskan bangunan fisik pasar. Belum sampai menyentuh pada fasilitas seperti hidran. ‘’Yang jelas, nanti akan kami usulkan lagi supaya dianggarkan untuk pengadaan hidran. Termasuk penambahan APAR untuk masing-masing pasar,’’ janjinya.

Di sisi lain, Rochimin berharap para pedagang memiliki kesadaran untuk mencegah terjadinya kebakaran. Pasalnya, kejadian kobongan pasar selama ini didominasi faktor kelalaian manusia. ‘’Memang perlu ada sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran kepada para pedagang,’’ tegasnya.

Dia menambahkan, peristiwa kebakaran Pasar Beran pada Minggu lalu menghanguskan satu kios (bukan tiga seperti diberitakan sebelumnya) milik Sulasih. Penyebabnya diduga karena korsleting listrik. Akibat kejadian tersebut, korban menderita kerugian sekitar Rp 40 juta. (tif/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here