Pasar Besar Caruban: Tak Instan Bangun Ikon Caruban

139
PASAR CARUBAN BARU : Tak kurang dari Rp 3,8 triliun berputar di PBC setiap tahunnya.

MEJAYAN – Perputaran uang di Pasar Baru Caruban (PBC) kontraproduktif dengan sokongan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Madiun. Putaran duit triliunan dari ratusan pedagang pasar tradisional itu tidak sebanding dengan retribusi sewa stan dalam setahun. Bila omzet pedagang ditaksir mencapai Rp 3,8 triliun per tahun, retribusi yang disumbangkan hanya Rp 517 juta. Nilai tersebut sesuai realisasi PAD bersumber retribusi sewa tahun lalu. ‘’Masih minim untuk mendorong peningkatan PAD,’’ kata Kepala PBC Raswiyanto Selasa (11/6).

Raswiyanto mengatakan, perputaran uang PBC sekitar Rp 318 juta per bulannya. Duit ratusan juta tersebut berdasarkan asumsi setiap pengunjung berbelanja minimal Rp 30 ribu. Jumlah pembelinya terbagi pada hari aktif dan akhir pekan. Rata-rata terdapat 300 pembeli per harinya (Senin-Jumat). Meningkat hingga 500 pengunjung di akhir pekan (Sabtu dan Minggu). Sementara, pengeluaran pedagang maksimal Rp 20 ribu untuk bahan bakar kendaraan, makan, dan biaya sewa kios. ‘’Kami memang tidak memiliki data valid karena urusan dagang itu sangat dinamis,’’ ujarnya.

Namun, belum terdongkraknya nilai retribusi ditanggapinya karena kondisi pasar yang sepi. Transaksi jual-beli antara pedagang dengan pembeli belum tinggi. Kendati 904 pedagang telah menghuni 1.234 los dan kios –total kapasitas PBC. Beberapa penyewa memiliki lebih dari dua stan. Sepinya pengunjung membuat banyak pedagang memilih tidak memanfaatkan stannya untuk berjualan. Walhasil, pungutan retribusi sewa setiap hari tidak pernah bisa terpenuhi 100 persen. ‘’Maksimal 600–700 pedagang saat akhir pekan,’’ ucapnya sembari menyebut ratusan pedagang mayoritas berdomisili di Caruban.

Rendahnya kunjungan pembeli tidak berubah sejak pasar dipindah dari kawasan taman kota enam tahun silam. Sejumlah penyebab di antaranya lokasi pasar berada di tengah area persawahan Desa Buduran, Wonoasri. Jalan raya di seberang pasar yang diberlakukan satu jalur. Keduanya berimbas terhadap pembeli yang menjadi malas datang ke pasar. Belakangan, pemkab berupaya mengubah ruas jalan menjadi dua arah. ‘’Juga dipengaruhi jual beli online dan toko modern,’’ ucapnya.

Raswiyanto telah lama memprediksi perkembangan PBC membutuhkan waktu yang panjang. Tidak sekadar mendirikan bangunan representatif, melainkan perlu ditambah fasilitas penunjang. ‘’Kami sadar tidak bisa instan untuk menjadikan PBC sebagai salah satu ikonnya Caruban,’’ tuturnya kepada Radar Caruban.

Terpisah, Plt Kabid Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun Agus Suyudi menyatakan, wacana pengembangan lantai dua PBC bisa menjadi solusi rendahnya retribusi sewa. Penambahan stan khusus wahana permainan diyakini mampu mengerek potensi PAD. ‘’Renovasi pasar memang tidak bisa meningkatkan retribusi, tapi setidaknya bisa mendongkrak minat pembeli datang ke pasar,’’ ujarnya.

Disinggung besaran nilai perputaran uang PBC ratusan juta per bulan, Agus tidak bisa memastikan. Urusan tersebut diketahui oleh kepala pasar. ‘’Dinas hanya mendata perolehan retribusi,’’ katanya. (cor/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here