Parkir Sekitar Plaza Lawu Semrawut, Tarif Ugal-ugalan

947

MADIUN – Imbas beroperasinya Plaza Lawu mulai terasa. Dua hari ini kondisi parkir semrawut. Sepeda motor sampai meluber di kawasan Jalan Pahlawan. Tarif parkir juga ugal-ugalan. Faktanya, dari pantauan Jawa Pos Radar Madiun, di hari pertama launching (12/12), tarif untuk sepeda motor pada siang hari sampai Rp 3 ribu. Sedangkan, Rp 5 ribu pada sore hari. Mobil sampai Rp 10 ribu.

Bukan hanya masyarakat yang mengeluh, potensi penghasilan dari sektor tersebut juga hilang.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Madiun Ansar Rasidi langsung bergerak cepat. Pihaknya langsung menerjunkan tim pengawasan dan pengendalian (wasdal) ke lokasi parkir di sekitar Plaza Lawu Madiun. ’’Ini kondisi yang tidak baik,’’ katanya.

Namun, pihaknya tetap memberikan solusi melubernya parkir. Ada beberapa hal yang menjadi atensi dishub. Di antaranya, memberikan kelonggaran jukir di seputaran Jalan Kalimantan dan Jalan Pahlawan itu menjalankan aktivitasnya sampai satu minggu terhitung sejak 12 Desember. Selepas itu pihaknya baru akan menindaknya. ’’Tapi, kalau kedapatan menarik retribusi parkir di luar batas kewajaran atau sampai Rp 5 ribu untuk kendaraan roda dua, akan kami beri sanksi pembinaan,’’ ujar Ansar kepada Radar Madiun.

Berdasar pantauan di lapangan, ternyata banyak titik parkir yang sudah mematok tarif pasca-launching Plaza Lawu Madiun. Tapi, titik tersebut tidak masuk daftar parkir resmi. Salah satunya di tepi Jalan Pahlawan. Persisnya berada di depan pusat perbelanjaan yang dulunya bernama Pasaraya Sri Ratu tersebut.

Munculnya area parkir liar di tepi jalan umum itu berdampak langsung pada arus lalu lintas kendaraan. Lebar ruas jalan mengalami penyempitan. Karena parkir kendaraan bermotor terdapat pada dua sisi badan jalan. Situasi seperti itu terjadi sampai di depan rumah dinas wali kota Madiun. Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan karena penataan parkir yang terkesan semrawut.

Kondisi itu diperparah dengan terbatasnya lahan parkir yang disediakan oleh pihak pengelola Plaza Lawu Madiun. ‘’Kami sudah bekerja sama dengan Satlantas Polres Madiun Kota untuk mengurai kemacetan kendaraan yang terjadi di sekitar Plaza Lawu Madiun,’’ terang Ansar.

Dia meyakini, munculnya area parkir liar di tepi jalan umum itu bersifat sementara. Karena bertepatan dengan launching Plaza Lawu Madiun. ’’Jangan sampai ada kesempatan seperti ini, kemudian mereka (jukir, Red) memanfaatkannya dengan menarik retribusi parkir seenaknya,’’ ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, pada 2018 target pendapatan retribusi parkir mencapai Rp 800 juta. Selain itu, untuk menggenjot peningkatan pendapatan dari sektor tersebut, dishub juga melelang pengelolaan 55 titik parkir di tepi jalan umum kepada pihak swasta. Perinciannya, 51 ruas jalan untuk parkir reguler dan empat lokasi parkir insidental. Dari model kerja sama pengelolaan parkir dengan jangka waktu dua tahun itu, pemkot mematok target limit pemasukan sebesar Rp 3,135 miliar tiap tahunnya. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here