Panggung Sengit Demokrat, Golkar Siap-Siap Menyodok

139

MAGETAN – Dapil 1 Magetan yang kondang sebagai dapil ’’neraka’’, dan dapil 2 dengan dominasi caleg perempuan. Sedangkan dapil 3 bakal menjadi panggung pertaruangan antarcalon legislatif (caleg) Partai Demokrat. Yakni, menjadi perebutan antara Ali Basri dan Lilis Sudartiningsih. Seperti apa skenario drama perang saudara itu?

Pengamat politik Magetan Thoyieb Rantiono mengatakan, saat ini Ali Basri yang masih aktif menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Magetan tengah giat-giatnya menggaet massa. Bahkan, bisa dikatakan paling giat. Sehingga, dimungkinkan kepercayaan masyarakat didapatnya. Juga, dari masyarakat yang sebelumnya tidak memilihnya. ’’Mungkin karena ada pendatang baru yang tidak bisa dianggap enteng. Makanya Ali giat,’’ ujarnya.

Lawan yang dianggap berpotensi mengganggu dominasi Ali Basri itu yakni Lilis Sudartiningsih atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lies Kirun. Sebagai rookie, dia tidak bisa dipandang sebelah mata. Siapa yang tak tahu seniman kondang Kirun? Bukan hal yang sulit bagi istri Kirun itu untuk mendapatkan suara masyarakat. Apalagi,  menguasai pemilih perempuan dan tengah rajinnya bersilaturahmi. ‘’Dapil 3 ini menjadi persaingan antar caleg dalam satu partai, Demokrat,’’ katanya.

Lies Kirun juga masih memiliki jurus jitu untuk memenangkan pertarungan dengan rekan separpolnya itu. Keberadaan guru honorer bakal menjadi sasaran tembaknya. Sebab, disana banyak berkecimpung orang seni. Sangat pas dengan latar belakangnya yang juga kental dengan darah seni. ’’Setiap caleg sudah punyz segmen tersendiri untuk meraih suara. Tinggal pintarnya mereka atur strategi,’’ terangnya.

Selain pertarungan sengit antar caleg dalam partai berlambang mercy itu, pertarungan juga akan diwarnai oleh mantan anggota dewan yang hobi pindah-pindah parpol, Suwarno. Kali ini warga Desa Sempol, Maospati itu turun dengan kendaraan barunya, yakni partai Golkar. Kendati dikenal sebagai kutu loncat, namun jiwa bertarungnya tidak boleh diremehkan oleh caleg lainnya. ’’Dari segi dana, dia yang paling siap ketimbang caleg lainnya,’’ terangnya.

Mantan ketua dewan Joko Suyono yang mengundurkan diri lantaran ikut dalam kontestasi pemilihan bupati (pilbup) 2018 kembali menampakkan batang hidungnya. Dia kembali nyaleg di dapil yang meliputi empat kecamatan sisi utara Magetan itu, yakni Barat, Karangrejo, Karas, Kartoharjo. Namun, Joko Suyono masih tampak adem ayem. ’’Mungkin karena sudah punya konstituen yang setia. Orang – orang PDIP umumnya fanatik,’’ paparnya.

Pun, dengan puluhan caleg lainnya masih belum ada yang menonjol bergerak. Kemungkinan mereka masih menghitung untung rugi sebelum melakukan kegiatan. Bukan menjadi rahasia lagi, masyarakat jarang yang melihat kualitas caleg yang akan dipilihnya. Melainkan akan mempertimbangkan sangu yang akan diberikan caleg tersebut. Ketimbang keluar duit banyak, namun tidak terpilih menjadi anggota wakil rakyat, caleg – caleg anyar itu memilih diam terlebih dahulu. ’’Misalnya ada caleg benar – benar berkualitas, tapi kalau tidak punya isine tas (isinya tas, red) rasanya hanya mimpi jadi anggota dewan,’’ pungkasnya. (bel/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here