Pak Rebo kok Laire Dino Kemis

90

LIMA abad silam. Pujangga Inggris William Shakespeare menulis ungkapan. Kemudian melegenda. Dalam teks drama karyanya: Romeo and Juliet. ‘’What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.’’  Terjemahan bebasnya: Apalah arti sebuah nama? Andai kita memberi nama lain untuk bunga mawar tetap akan berbau wangi.

Ungkapan yang debatable. Multitafsir. Bukan tekstualnya. Tapi, kontekstualnya. Mungkin, yang dimaksud pujangga ini bukan makna. Tapi, seberapa penting nama itu. Apa pun namanya, terpenting kasunyatan. Faktanya. Sehingga, ungkapan ini juga berlaku untuk bunga raflesia. Dinamai apa pun, kenyataannya tetap berbau busuk.

Sejatinya, nama punya makna. Nama orang misalnya. Orang tua tentu tidak sembarangan memberi nama jabang bayinya. Jika dikelompokkan ada dua. Kelompok pertama, nama sebagai penanda atau pengingat. Urutan, misalnya. Bisa juga waktu kelahiran. Hari, bulan, atau zodiak. Pun momentum, peristiwa, atau fenomena yang mengiringi kelahiran.

Kelompok kedua, lebih dalam maknanya. Nama sebagai doa atau harapan. Bisa rangkaian kata-kata indah. Pun bisa meng-copy nama para tokoh. Hingga nabi dan malaikat. Harapannya, kelak perjalanan hidup si jabang bayi seindah rangkaian kata-kata itu. Sehebat para tokoh. Hingga mewarisi keteladanan para nabi dan malaikat.

Sayang, acap tak sesuai harapan. Bahkan, sering berbanding terbalik. Tidak heran jika di sebagian masyarakat Jawa ada istilah kabotan jeneng. Terlalu berat menanggung beban nama. Dianggap membawa kesialan. Sehingga, perlu diganti. Memermak nama juga populer di kalangan artis dan selebriti. Konon, demi hoki.

Lebih luas, nama identik dengan sebutan, julukan, predikat, status, merek, atau brand. Tidak hanya berlaku untuk orang. Bisa perusahaan, komunitas, klub, atau grup. Pun desa, daerah, bahkan negara. Satu subjek pun bisa punya beragam nama. Bebas. Sebab, seperti ungkapan William Shakespeare: apalah arti sebuah nama?

Seperempat abad silam. Di surat kabar harian Karya Darma. Salah satu koran Jawa Pos Group (JPG) yang sudah gulung kertas. Terempas badai krismon (krisis moneter) akhir dekade 1990-an. Dulu, cikal bakal Jawa Pos Radar  (JPR) itu menjuluki setiap daerah di Jawa Timur. Melalui logo unik dan ikonik. Tertempel di setiap berita. Pemandu pembaca mendeteksi berita dari daerah mana.

Di eks Karesidenan Madiun misalnya. Berita Pacitan ditempeli logo cincin akik. Tak dimungkiri. Dari dulu hingga kini. Baik sebelum booming maupun setelah meredup lagi. Pacitan dikenal gudangnya akik berkualitas. Berita Ponorogo ditandai logo barongan. Kepala reyog. Paten. Itulah histori dan jati diri Ponorogo.

Berita Magetan dibuatkan logo kuda. Mengacu objek wisata Telaga Sarangan yang ikonik dengan hewan tunggangan itu. Untuk mengelilingi danau di Gunung Lawu ini. Berita Ngawi ditempeli logo tulang dan gading. Penanda Ngawi sebagai daerah penemuan fosil manusia dan gajah purba. Tepatnya di Trinil.

Logo berita Kota Madiun bukan pecel. Bukan pula pendekar. Melainkan kepala kereta api. Lokomotif. Ini fakta. Satu-satunya pabrik kereta api di Indonesia ada di Kota Madiun. Produknya mengglobal. Sedangkan berita Kabupaten Madiun berlogo hutan jati. Bukan brem. Bukan dongkrek. Ya, karena nyaris separo dari total luas wilayah ini kawasan hutan. Mayoritas jati.

Itu 25 tahun lalu. Mungkin dinilai tidak relevan lagi. Seiring bergulirnya waktu, dinamika pun terus berubah. Pemerintah daerah berlomba-lomba mem-branding daerah mereka. Julukannya keren dan mentereng. Kampung ini. Kota Itu. Negeri Anu. Kadang keinggris-inggrisan. Sah-sah saja. Sebab, kembali ke ungkapan William Shakespeare: apalah arti sebuah nama?

Terpenting, jangan menipu. Ojo ngapusi. Ojo gawe bingung. Bisa-bisa malah jadi lelucon. Seperti lagu campursari jenaka yang pernah dipopulerkan sang maestro almarhum Manthous. Juga Bapak Patah Hati ”Lord” Didi Kempot: Pak Rebo. Begini penggalan liriknya:

Pak Rebo kok laire dino Kemis…                

Ojo ngono, dadi wong ojo lamis…

Rondo pindo ojo sok ngaku gadis…

Hmm. Mau nama mawar tapi baunya busuk? Atau nama raflesia tapi baunya wangi? Terserah. Opo jare sing mbaurekso.***

*Jurnalis Jawa Pos Radar Madiun, mas_sadmiko@yahoo.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here