Othman Tak Bisa Lekas Kembali ke Indonesia

90

MEJAYAN – Harapan Othman bin Iman untuk kembali ke Indonesia tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Setelah dideportasi Kantor Imigrasi Klas II Madiun, Rabu (4/5), nama kakek 69 tahun asal Kelantan, Malaysia, itu bakal di-blacklist. Artinya, tak bisa mengunjungi Indonesia selama enam bulan ke depan. Meskipun dia menyatakan bakal secepatnya mengurus persyaratan di negaranya agar bisa segera kembali ke negeri ini. ‘’Semua WNA (warga negara asing, Red) yang dideportasi otomatis masuk daftar hitam (blacklist),’’ tegas Kepala Kantor Imigrasi Klas II Madiun Kurniadie.

Setelah enam bulan, bisakah Othman kembali ke Indonesia? Berkumpul lagi dengan Rusmini, perempuan asal Kabupaten Ngawi yang diakui telah dinikahinya sejak 2004 lalu? Kurniadie menegaskan, hal itu tidaklah mudah. Harus diketahui dahulu untuk apa kedatangan Othman kembali ke Indonesia. ‘’Hanya WNA yang memberikan keuntungan dan manfaat yang diperbolehkan masuk Indonesia,’’ terangnya.

Apalagi, selama dua tahun di kabupaten dengan julukan Bumi Orek-Orek itu, Othman tidak melakukan aktivitas apa pun. Dia bukanlah investor yang sedang menanamkan modalnya di wilayah kerja Kantor Imigrasi Klas II Madiun. Bahkan, Othman mengaku tengah sakit. ‘’Jika kembali lagi ke sini, bukankah bakal semakin membuat susah mereka yang menampungnya?’’ tukasnya.

Sejatinya, Othman bisa saja kembali ke Indonesia. Sama seperti saat pertama kali masuk ke Indonesia, 19 Februari 2016 lalu. Namun, hanya menggunakan visa kunjungan wisata. Sehingga hanya diperbolehkan tinggal selama 30 hari. Izin tinggal itu pun bisa diperpanjang sehingga tidak sampai menyebabkan overstay. Karena masa berlaku visa yang sudah expired. ‘’Tapi, harus ada penjamin,’’ jelasnya.

Sedangkan cara termudah agar Othman bisa menjadi WNI, yakni dengan proses pernikahan. Namun, status pernikahan Othman dengan Rusmini diragukan. Karena tak ada selembar dokumen yang menyatakan bahwa kedua warga beda negara itu sudah menikah resmi. Tanpa tercatat di kedua negara, hal itu justru merugikan keduanya. ‘’Jika sampai berselisih hukum di kemudian hari, tidak bisa saling menuntut dan mengklaim,’’ terangnya.

Dengan adanya bukti resmi, barulah status suami Othman diakui. Begitu pula dengan Rusmini yang diakui sebagai istri warga negeri jiran itu. Dengan begitu, hak dan kewajiban Rusmini sebagai istri warga negara asing tidak akan hilang. Sehingga, Othman bisa tinggal di Indonesia menggunakan kartu izin tinggal terbatas-elektronik (e-kitas). Rusmini pun bisa menjadi penjamin asalkan ada dokumen yang menyatakan legalitas pernikahan keduanya. ‘’Tapi, selama pemeriksaan, kami tidak mendapati surat itu,’’ ungkapnya.

Tertangkapnya Othman oleh tim pengawas orang asing (timpora) itu seharusnya menjadi pelajaran bagi WNI lainnya. Tinggalnya Othman selama dua tahun tanpa melapor ke Kantor Imigrasi Klas II Madiun jelas melanggar ketentuan keimigrasian. Bahkan, Rusmini yang mengaku sebagai istrinya, dapat diperkarakan secara pidana. ‘’Karena mengetahui ada WNA, tapi diam saja,’’ pungkasnya. (bel/c1/fin)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here