Ngawi

Orang Tua Berkecukupan, tapi Aryo Tak Malu Berjualan di Sekolah

Masa remaja memang masa yang mengasyikkan. Tapi, Arsdanto Primaji Prasetyo punya cara lain menikmati usia pubertasnya. Sembari menuntut ilmu, dia menjajakan beraneka kue di sekolah.

———-

BEL tanda pulang sekolah berbunyi saat jarum pendek jam mengarah ke angka 2. Para pelajar pun keluar kelasnya masing-masing. Ada yang berjalan berkerumun, ada juga yang sendirian. Beberapa di antaranya lari berkejaran sembari tertawa riang.

Di tengah riuh suasana buyaran sekolah itu tampak Arsdanto Primaji Prasetyo berjalan sambil menenteng ujung ikatan sebuah kain pembungkus kotak jajanan. Sementara, tas hitam miliknya menempel di punggung. ‘’Tinggal donat, Bu,’’ katanya sedikit berteriak, menjawab pertanyaan dari salah seorang guru dari kejauhan.

Di lingkungan MTsN 3 Ngawi, Aryo –sapaan Arsdanto Primaji Prasetyo- terbilang pelajar yang lain daripada yang lain. Aryo belajar sambil berbisnis. Jam istirahat sekolah dimanfaatkan untuk berjualan beraneka jajanan. ‘’Pisang cokelat, roti sosis, donat, dan gorengan,’’ sebutnya.

Ketika pelajar lain beristirahat dan bermain saat ngaso, Aryo memilih menjajakan jajanan yang sedari pagi disiapkannya dari rumah. Baik keliling dari kelas ke kelas maupun membeber kotak-kotak plastik di depan kelasnya sendiri.

Aryo biasanya membawa lima kotak jajanan ke sekolah. Memangku lima tumpukan kotak yang dibungkus taplak di jok motor belakang, sudah menjadi rutinitasnya saban pagi.

Dia sudah terbiasa begitu saat diantar orang tuanya dari rumah di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Ketanggi, Ngawi. ‘’Pukul 06.00 sudah sampai di sekolah karena sudah banyak yang beli juga,’’ kata sulung tiga bersaudara pasangan Juli Triwiyanti dan Dani Rahmadi ini.

Sejumlah warga di penggal Jalan Kenari menuju sekolahnya sudah terbiasa menyaksikan pemandangan Aryo yang menenteng kotak jajanan di pagi hari. Tak jarang, beberapa orang memanggilnya untuk membeli kue. Pun, sejumlah pelajar lain kerap memberhentikannya sesaat sebelum masuk kelas. ‘’Lumayan banyak yang beli sebelum masuk, biasanya kakak kelas yang cewek-cewek,’’ ujarnya sambil tersenyum kecil.

Selumrahnya orang jualan, Aryo juga pernah pulang dengan kotak jajan yang masih terisi. Dua kali jam istirahat tak mampu menghabiskan barang dagangannya. Meski begitu, dia menghadapinya dengan senang hati. ‘’Pas awal jualan sempat kurang laku. Lalu, jajanan saya tambah seperti request teman-teman,’’ terangnya.

Sekali jualan Aryo bisa mengantongi uang sekitar Rp 500 ribu. Nominal rupiah yang membuat remaja seusianya tersenyum semringah. Meski begitu, ada kerja keras yang mesti Aryo jalani di balik itu semua. Pukul 02.00 dia mesti beranjak dari tempat tidur.

Bersama ibunya, Aryo berkutat dengan penggorengan. Ya, di saat sebayanya ataupun orang dewasa sedang pulas-pulasnya, dia terbiasa di dapur menggoreng jajanan yang telah disiapkan sore hari sebelumnya. ‘’Siap-siapnya dibantu mbak-mbak pengajar bimbel di rumah,’’ jelas Aryo.

Sejatinya Aryo tumbuh di tengah-tengah keluarga yang terbilang berkecukupan. Ibunya sebagai owner bimbingan belajar. Sementara, ayah Aryo tercatat sebagai PNS di lingkup Pemkab Ngawi.

Kendati begitu, dia enggan berpangku tangan. Aryo memilih belajar mandiri seperti yang diajarkan orang tuanya kepadanya. Semangatnya bersekolah sambil berjualan itu patut diacungi jempol. ‘’Pas kelas III SD dulu juga jualan gorengan,’’ ungkapnya.

Aryo ingat betul awal-awal berjualan gorengan dulu. Mengayuh sepeda pancal bersama adiknya, dia berkeliling di lingkungan tempat tinggalnya setiap Minggu. Kala itu, celetuk seorang warga yang menanyainya kenapa seorang anak kecil mesti berjualan begitu, membuat hatinya menciut. Namun, semangatnya kembali tersulut sesaat setelah bercerita kepada ibunya. ‘’Dinasihati ibu. Tidak boleh malu kalau itu halal,’’ ujarnya.

Kedisiplinan benar-benar tertanam pada Aryo sedari kecil. Itu yang membuatnya bisa membagi waktu. Yakni, untuk berjualan serta persiapannya dan untuk pendidikan yang ditempuh. Sepulang sekolah, Aryo mesti les. Sampai pukul 17.00, tangan yang semula memegang pensil berganti peranti dapur.

Dia berbagi tugas dengan ibu dan sejumlah pengajar di bimbel milik ibunya. Pukul 20.00, Aryo kembali membuka buku-buku pelajaran. ‘’Pukul dua pagi bangun bantu goreng-goreng. Sebelum azan Subuh kompor harus mati,’’ ungkapnya.

Semangat Aryo hingga seperti itu tidak lepas dari kondisi ibunya yang sakit kanker. Dia sempat mendengar percakapan saat periksa ke dokter bahwa darah ibunya tidak bisa menyerap nutrisi secara maksimal. ‘’Sebelumnya tidak tahu kalau ibu saya sakit. Dulu itu mulai berjulan karena saya sering ngabisin kuota untuk main internet,’’ paparnya.

Nasihat ibunya saat dia kelewat banyak main internet, menjadi titik awal Aryo bersekolah sambil berjualan. Sekarang Aryo tidak kebingungan lagi saat adik-adiknya minta tathering. Pun, dia bisa menyisihkan sebagian hasil jualannya.

Tabungan itu kelak dia pakai untuk bersekolah atau kursus tata boga. Aryo punya impian menjadi seorang chef dan memiliki restoran. ‘’Hasil jualan sebagian untuk sekolah nanti. Sebagian lagi buat berobat ibu,’’ kata Aryo. ***(deni kurniawan/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close