Magetan

Perubahan Jalur Menuju Sarangan Diyakini Dongkrak Ekonomi Daerah

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Jalan menuju objek wisata Telaga Sarangan tak lagi ”mulus”. Utamanya bagi pengguna jalan yang datang dari arah Jalan Raya Maospati. Mereka tak bisa lagi langsung lurus masuk ke wilayah kota via Jalan Pahlawan karena penerapan perubahan jalur oleh dinas perhubungan (dishub) mulai bulan depan.

Kepala Dishub Magetan Joko Trihono mengatakan, ada dua jalur alternatif yang bisa digunakan para pengguna jalan menuju Sarangan. Pertama, masyarakat yang datang dari Jalan Raya Maospati bisa langsung tekuk kiri sesampainya di pertigaan Stadion Yosonegoro. Kemudian mereka bisa terus lewat Jalan Samudra.

Sedangkan, jalur alternatif kedua adalah lewat Jalan S. Parman yang ada di simpang tiga RSUD dr Sayidiman. Pengendara bisa langsung tekuk kanan sesampainya di lokasi tersebut dan bablas melalui Jalan Kunti. ‘’Untuk memudahkan masyarakat, nanti kami pasang rambu penunjuk jalan dan traffic light di situ,’’ katanya.

Alternatif itu sengaja disusun sedemikian rupa karena mulai September ada kebijakan perubahan jalur di beberapa ruas jalan protokol. Mulai Jalan Pahlawan, Jalan Panglima Sudirman, Jalan A. Yani, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Diponegoro. Ruas jalan provinsi yang sebelumnya satu jalur dari arah barat (Sarangan) ke timur (Madiun via Maospati).

Joko menambahkan, jalur alternatif lain yang bisa ditempuh melalui ring road. Tetapi, alternatif itu dikhususkan bagi pengguna jalan yang datang dari wilayah utara. ‘’Pengaturan umum yang akan kami terapkan seperti itu. Tapi, akan kami sesuaikan dengan kondisi jalan,’’ terangnya.

Dijelaskan, bahwa perubahan arus lalu lintas itu diterapkan sebagai fasilitasi wisatawan agar berlama-lama di Magetan. Karena selepas berlibur di Sarangan, mereka yang akan kembali ke Madiun dan sekitarnya dilewatkan ke sejumlah pusat perdagangan, oleh-oleh, dan kerajinan.

Mulai dari Jalan Sawo sebagai sentra kerajinan kulit. Kemudian wisata belanja di Pasar Baru Magetan (PBM). Sebelumnya, PBM nyaris tak terjangkau masyarakat dari luar daerah karena sistem arus lalu lintas di kawasan tersebut memang menerapkan satu jalur dari timur ke barat. ‘’Kawasan kota ini untuk pulang. Sengaja kami lewatkan ke tempat oleh-oleh,’’ jelas Joko.

Meski perubahan jalur itu terkesan dipaksakan, namun dishub berdalih kebijakan tersebut sebagai bentuk fundamental penataan ekonomi daerah ke depannya. Sekalipun proses itu dijalankan tidak instan. Karena harus melalui studi kelayakan dan kajian. ‘’Setiap kebijakan yang diambil, harus bisa memberikan multieffect,’’ ujar Joko. (bel/c1/her)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close