Madiun

Omzet Perajin Batik Terjun Bebas

Pandemi Covid-19 Hambat Penjualan

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Perajin batik di Desa Balerejo, Kebonsari, Kabupaten Madiun, merana. Sejak pagebluk Covid-19 melanda Maret lalu, omzet industri rumahan ini terjun bebas. ‘’Sejak awal korona tidak ada yang terjual,’’ kata Siti Suwarni, salah seorang perajin, Kamis (10/9).

Kondisinya semaki parah memasuki April dan memuncak hingga Juli. Akibatnya, omzetnya anjlok nyaris 100 persen. ‘’Tidak bisa berbuat banyak, hampir tidak ada pemasukan,’’ ujarnya.

Selama masa pandemi Covid-19 usaha Suwarni nyaris nol orderan. Sebelumnya, rombongan tour dari luar daerah dan pulau acap mampir ke galeri batiknya. Sedangkan pemasaran online belum berjalan maksimal. ‘’Pandemi ini sangat merugikan,’’ ungkapnya.

Sebelum pagebluk korona, perempuan 58 tahun itu mampu meraup omzet rata-rata Rp 45 juta sebulan. Selama pandemi dia juga kesulitan mendapatkan bahan baku. Penyebabnya, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah. ‘’Cari bahan juga susah,’’ bebernya.

Selain itu, event pameran batik juga ditiadakan. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada penjualannya. Untuk tetap bertahan, dia memanfaatkan media sosial (medsos). ‘’Tapi hasilnya belum maksimal, cuma 20 persen,’’ sebutnya.

Suwarni akan terus berproduksi di tengah pandemi. Dia optimistis usahanya akan kembali membaik usai pandemi. Untuk sementara produknya distok di galerinya. ‘’Semoga wabah korona segera sirna,’’ harapnya. (mg4/c1/sat)

Tersisa Seorang yang Masih Bertahan

DESA Bener, Saradan, di masa lampau merupakan sentra kerajinan gerabah di Kabupaten Madiun. Namun, mandeknya regenerasi mengakibatkan kerajinan tersebut terancam punah. ‘’Tinggal saya. Lainnya memilih berhenti dan sebagian sudah meninggal,’’ kata Tarinem, satu-satunya perajin yang masih bertahan, Kamis (10/9).

Menurut dia, anak muda di desanya memilih mengais rezeki di bidang lain. Mereka enggan menjadi perajin gerabah lantaran hasilnya dinilai tidak menjanjikan. ‘’Harganya rata-rata hanya Rp 15 ribu.  Itu saja seharian belum tentu ada yang beli,’’ ujar perempuan 85 tahun tersebut.

Terpisah, Kepala Desa Bener Sukidi mengakui home industry gerabah di desanya kini nyaris punah. Padahal, pada era 1980-an mayoritas warga setempat menekuni jenis kerajinan tersebut. ‘’Dulu saya juga perajin gerabah,’’ sebutnya. (mg4/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close