Madiun

Olshop Marak, Mal di Kota Madiun Sepi

MADIUN – Pekan pertama di bulan Ramadan sejumlah tenant pusat perbelanjaan di Kota Madiun masih terlihat sepi. Kondisinya belakangan memang menurun dibanding sebelum puasa. Maraknya online shopping (olshop) disebut ikut menyumbang turunnya pembelian secara offline. Di sisi lain, perilaku konsumen yang baru berbelanja mendekati hari H Lebaran juga berpengaruh.

Jawa Pos Radar Madiun berusaha melakukan pemantauan di sejumlah pusat perbelanjaan. Ada banyak brand fashion populer yang masih belum mengundang konsumen. ’’Sebelum puasa satu hari bisa sampai Rp 2 juta, memasuki awal Ramadan ini kemarin misalnya hanya Rp 500 ribu, malah pernah Rp 40 ribu,’’ ujar Widya Yuana, salah seorang penjaga tenant pakaian.

Widya mengatakan, dia terhitung baru mengisi tenant mal tersebut sejak awal April sampai dengan pertengahan Juni. Pendek kata, hanya mengisi momentum Lebaran. Namun, jika masih ramai pembeli  tidak menutup kemungkinkan akan bertahan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Sejauh pengalamannya, minggu pertama puasa, produk pakaian memang tidak selaris produk makanan minuman. ‘’Pengalaman saya dulu sebelum jaga disini saya jaga stand tas. Itu hasilnya lumayan bisa puluhan juta, karena barengan sama anak sekolah,’’ paparnya.

Perang diskon dilakukan sebagai salah satu cara untuk menarik perhatian pembeli. Widya sengaja memajang identitas harga di atas produknya. Namun,  sampai saat ini belum menunjukkan hasil. Sepinya pelanggan ini juga dirasakan oleh sejumlah tenant lainnya. ’’Padahal ini sudah di pintu masuk lantai satu, nggak tahu kalau penjual  di lantai II dan seterusnya. Mungkin baru ramai nanti kalau mau Lebaran,’’ ujarnya.

Bambang Wibisono, store manager Matahari Sun City juga mengatakan hal yang senada. Bahwa, awal bulan Ramadan belum menunjukkan kenaikan  omzet yang cukup signifikan. Orang cenderung masih menahan diri untuk belanja kebutuhan Lebaran. ’’Uang THR dan gaji ke 14 juga belum cair kan,’’ ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya mengaku telah mempersiapkan secara matang menyambut momentum Lebaran. Ditandai dengan menambah stok barang pembelian enam kali lipat dari hari biasanya. Kemudian, 100 orang personel pekerjan temporer sudah dipekerjakan. ’’Mereka karyawan temporer membantu memenuhi kebutuhan Lebaran sampai dengan pertengahan Juni mungkin. Sudah masuk dulu karena harus mengikuti training terlebih dahulu, terutama kasir,’’ jelasnya.

Selain itu, diskon besar-besaran dari 75 persen sampai dengan diskon  plus-plus telah terpampang. Tidak dapat dipungkiri, diskon gede selalu menarik perhatian konsumen. Diprediksi ramainya pembeli adalah dua minggu sebelum Lebaran. Model pakaian anak-anak dipastikan menjadi daftar urutan pertama yang diserbu. Menyusul kemudian, pakaian dewasa. ‘’Semua persiapan suda siap, tinggal menunggu pembeli aja nih,’’ pungkasnya.

Bagaimana dengan dampak penjualan online? Bambang  mengaku tidak terlalu risau dengan kehadiran online. Sebab, baik online maupun offline memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semisal, poin plus dari belanja offline adalah pembeli bisa langsung  fitting baju. Mengetahui produk  langsung. ’’Juga bisa berekreasi kan sambil jalan-jalan,’’ paparnya.

Sementara, pengamat ekonomi lokal, Muhammad Imron menyampaikan pasar online lebih memudahkan penjualan yang praktis. Dengan catatan konsumen mesti menunggu waktu pengiriman samai barang ada di tangan. ‘’Ini bisa jadi kelebihan juga bisa jadi kekurangan. Saya dan istri pernah belanja online, beli dua barang yang datang satu barang dulu menyusul barang kemudian, masih harus kontak lagi pihak pembeli,  jadi ribet,’’ ujarnya

Tidak dapat dipungkiri, pasar online ini juga berpengaruh terhadap pasar offline. Namun, besar kecilnya pengaruh ini sifatnya relatif. Dan tergantung dari jenis produk tertentu. Jika barang-barang terentu yang  tidak tersedia di offline, memberikan keuntungan tersendiri bagi market place. Sebaliknya, ada juga konsumen yang lebih enjoy belanja offline jika produk yang dibeli berkaitan dengan size atau ukuran seperti pakaian. ‘’Karena tidak mau risiko jadi belanjanya offline. Tapi ada juga karakter konsumen yang memanfaatkan dua jenis pasar ini sekaligus,’’  pungkasnya. (dil/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close