MagetanPeristiwa

ODGJ Bawa Sajam, Warga Tawanganom Ketakutan

MAGETAN – Sebilah pisau berkilat memantulkan cahaya ke wajah petugas satuan polisi pamong praja (satpol PP) saat mengamankan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), Senin (30/7). Cepat-cepat, pisau itu ditarik dari ransel ODGJ yang saat didatangi tengah sarapan di pos kamling RT 1, RW 1, Kelurahan Tawanganom, Magetan. ODGJ bertopi hitam itu pun pasrah saat digelandang menuju truk.

Memang, ODGJ itu tidak mengamuk saat diamankan. Hanya, warga sekitar takut mendekatinya karena selalu membawa senjata tajam. Pun, tidak ada satu pun yang berani mengusirnya pergi dari pos kamling tempat mangkalnya sehari-hari itu. Sejak pos kamling ’’diduduki’’, warga setempat tak bisa memanfaatkannya untuk pos ronda. ‘’Sebelum puasa sudah di sini,’’ kata Doni Teguh Wicaksono, warga setempat.

Sebelumnya, ODGJ dengan cincin melingkar di jari manisnya itu dua kali sudah dirazia. Namun, entah mengapa selalu kembali ke gardu tersebut. Setiap malam, ODGJ itu juga tidur di gardu. Dia berselimutkan karung untuk menghindari dinginnya angin malam. ‘’Semoga tidak kembali lagi,’’ harapnya.

Kasi Operasi dan Pengendalian Satpol PP dan Damkar Kabupaten Magetan Khamim Basori mengatakan, ODGJ yang ditangkap itu langsung diserahkan ke dinas sosial (dinsos). Sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi), korps penegak perda hanya melakukan razia. Penanganan selanjutnya, entah dipulangkan atau dikirim ke rumah sakit jiwa (RSJ). ‘’Penanganan selanjutnya ada di sana,’’ terangnya.

Namun, dinsos juga membutuhkan campur tangan dinas kesehatan (dinkes) untuk meng-assessment ODGJ itu. Apakah harus dirujuk ke RSJ atau cukup dipulangkan ke keluarganya. ‘’Untuk sementara kami akan coba mengajak berkomunikasi supaya bisa segera ditindaklanjuti,’’ ujar Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Magetan Yuli Nursilaningsih.

Penanganan sementara, dinsos bakal mencukupi makan-minum serta memberikan pakaian layak. ODGJ itu kini ditempatkan di shelter darurat yang tak lain adalah gedung karang taruna. Dari kelayakan, Yuli tak menampik masih jauh dari kata standar. Namun, tak ada kata lain kecuali menggunakan gedung itu sembari menunggu realisasi pembangunan shelter. ‘’Sementara kami tempatkan di situ, supaya tidak lepas,’’ katanya.

Berapa lama ODGJ itu bakal dikurung di shelter darurat yang tidak standar? Yuli hanya bakal menampungnya tiga hari sesuai regulasi. Namun, bisa diperpanjang sambil menunggu penanganan selanjutnya. Hanya, pihaknya tidak bisa menampung ODGJ itu selamanya di shelter. Kendati UUD 1945 mengamanatkan fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Tidak ada anggaran untuk membiayai ODGJ itu seumur hidup. ‘’Penanganannya bukan hanya (tanggung jawab) kami, juga masyarakat luas,’’ pungkasnya. (bel/c1/fin)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close