Madiun

Nyawa Pelajar-Kasek Terenggut DBD

MADIUN – Diam-diam, demam berdarah dengue (DBD) juga meneror kabupaten ini. Januari lalu, gigitan nyamuk Aedes aegypti merenggut dua nyawa penderitanya. Mereka yang tak selamat itu: Dinar Ahmad Ibrahim, 11, pelajar asal Sukosari,  Dagangan; dan Masyudi, 59, kasek SD asal Durenan, Gemarang.

Dua penderita yang terenggut nyawanya itu seharusnya bisa menjadi peringatan berharga. Nyatanya, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) belum berjalan maksimal. Seperti yang diutarakan Suparmini, warga Sukolilo, Jiwan. Warga 64 tahun itu mengeluhkan layanan dari juru pemantik (jumantik). ‘’Desa kami jarang dipantau kader jumantik,’’ katanya.

Karena jarang didatangi jumantik, warga pun tak tahu apakah bak mandi di rumahnya terinfeksi. Padahal, perhatian ini penting untuk memastikan setiap rumah dan lingkungan terbebas dari jentik nyamuk. ‘’Terakhir dipantau akhir tahun lalu,’’ ujarnya.

Dinas kesehatan (dinkes) tak menampik fakta itu. Diakui, seluruh lingkungan di kabupaten ini menjadi sarang empuk tumbuh kembang nyamuk. Terlebih di musim penghujan ini. Supervisi yang telah dilakukan didapati bila pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tidak berjalan optimal. Itu merata di 206 desa/kelurahan di 15 kecamatan. ‘’ABJ (angka bebas jentik, Red)-nya baru 40 persen,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun Agung Tri Widodo.

Rendah persentase itu jelas sangat mengkhawatirkan. Sebab, untuk mencapai predikat baik, ABJ tak boleh kurang dari 95 persen. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan patut dipertanyakan. ‘’Kami akan gencarkan sosialisasi PSN,’’ janjinya.

PSN dengan 3M Plus seharusnya dilakukan sepekan sekali. Baik di rumah maupun lingkungan. Meminimalkan genangan dengan sampah dan barang bekas yang tak terpakai. Dinkes pun mengklaim intens melakukan fogging di sejumlah titik rawan.  ‘’Jangan biarkan nyamuk bebas berkembang biak,’’ imbaunya.

Dinkes mencatat, sebaran DBD mencapai 78 kasus (1 penderita meninggal) pada 2017. Setahun berikutnya, bertambah menjadi 124 kasus (1 meninggal). Untuk 2019 hingga pertengahan Februari sudah mencapai 99 kasus (2 meninggal). ‘’Januari, kita sudah fogging 40 titik,’’ klaimnya.

Dinkes juga mengandalkan laporan KDRS (kewaspadaan dini rumah sakit) DBD secara online. Setelah mendapati laporan dari rumah sakit, dinkes menindaklanjutinya dengan penyelidikan epidemiologis sebelum dilakukan fogging. (mgd/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close