Nyaris Kehilangan Nyawa saat Pertama Kali Selamatkan Korban

107

Mengevakuasi nelayan tenggelam, orang hilang di hutan, hingga aksi percobaan bunuh diri, tak lepas dari aktivitasnya. Petugas Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan itu kerap ditunjuk jadi ujung tombak mengevakuasi korban bencana maupun kecelakaan. Pun mengevakuasi jasad Jaka Suharjana dari dasar luweng.

NAPAS Panji tersengal. Tabung oksigen masih tergendong di punggungnya. Dibantu rekan-rekannya, Panji mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk merangkak keluar naik luweng (gua vertikal) di Dusun Sempon, Watukarung, Pringkuku. Hampir tiga jam, dia berjibaku dengan udara pengap dan panas luweng saat mengevakuasi jasad Jaka Suharjana.

Luweng sedalam 75 meter itu tak membuat Panji ciut nyali. Berbekal pengalaman puluhan tahun repling, tabung oksigen, cahaya senter, dan doa. Warga Barehan, Sidoharjo, Pacitan, itu menuruni gua vertikal di Gunung Macan, Watukarung.

Licinnya karang stalaktit dan stalagmit yang dipanjat sempat beberapa kali membuat cengkeraman tangannya lepas. Pun tak menyurutkan niatnya menyusuri gua. Tujuannya satu, mengevakuasi Jaka Suharjana keluar dari gua tegak lurus dengan lubang kurang dari dua meter itu. ‘’Harus dilihat dulu guanya sambil membawa tabung oksigen. Takutnya di dalam ada air atau gas beracun,’’ ujar Panji.

Sempat ragu lokasi pasti korban dan kedalaman gua, Panji pun waswas tali yang digunakan tak cukup panjang. Sesekali handy-talky di sakunya didengungkan menjabarkan kerisauan dan kondisi luweng. Pun gelapnya luweng seakan kian memperpanjang jaraknya dengan Jaka. Beruntung, setelah 15 menit menyusuri gua, telihat tanda keberadaan korban. ‘’Cahaya lampu senter yang dibawa korban masih menyala walaupun rusak, jadi kelihatan dari atas,’’ terang pria kelahiran 7 Juli 1978 itu.

Berbekal drag bag, dibantu seorang rekannya, jasad Jaka yang telah terbujur kaku itu dimasukkan dalam kantong jenazah dan diikat. Beruntung, kondisi dasar gua cukup lebar untuk memasukkan peralatan. Kekhawatiran ada gas beracun dan air di dalam gua langsung sirna saat mendapati kondisi dasar luweng yang luas. ‘’Cukup mulus hingga akhir evakuasi. Tapi, saat naik sempat kesulitan karena tabungnya berat dan ditarik, pinggang jadi sakit,’’ ungkap suami Sri Retno Handayani itu.

Tak hanya evakuasi darat. Pacitan yang berbatasan dengan Samudra Indonesia kerap membuatnya mengevakuasi korban laka laut. Awal bertugas 2000 lalu, pengalaman buruk saat evakuasi sempat dialami. Petugas baywatch di Pantai Teleng Ria itu sempat menyelamatkan orang tenggelam. Namun, nyawa bapak dua anak itu justru nyaris hilang. Kondisi pantai yang berpalung membuat gulungan ombak begitu kuat hingga menyeretnya beberapa kali ke tengah samudra.

‘’Saya dua kali berenang ke pantai gagal. Kondisi badan lemas dan pas sakit. Akhirnya saya pasrah kepada Tuhan. Lalu mencoba ketiga kalinya, berhasil dan langsung ditolong rekan lain,’’ katanya sembari menyebut sempat terkapar empat hari selepas kejadian itu.*** (sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here