Nyaris Jadi Korban Banjir

112

TANGGAL 7 Desember 2018 menjadi hari paling berkesan bagi Ratna Dwi Pratiwi. Itu hari pertamanya sebagai petugas public safety center (PSC) Dinas Kesehatan Pacitan. Ada cerita menarik, dirinya nyaris jadi korban banjir di Kecamatan Kebonagung saat itu.

Dia ingat betul hari pertamanya sebagai anggota petugas kedaruratan 119. Lulusan D-3 Keperawatan Poltekkes RS Dr Soepraoen Kesdam V Brawijaya, Malang, itu mendadak mendapat panggilan lewat walkie talkie untuk terjun ke lokasi banjir di Kebonagung. Padahal, saat itu dirinya tengah mengikuti kegiatan mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono di Pendapa Pacitan.

Menggunakan mobil ambulans, dia bersama dua rekannya bergegas meluncur ke rumah salah satu pasien yang memerlukan perawatan. ’’Saat itu, katanya ada pasien rawat jalan di rumah yang terjebak banjir, jadi kami diminta untuk lihat kondisinya dan evakuasi ke rumah sakit,’’ ujarnya.

Bukannya siap bergegas ke rumah sakit, saat sampai di tempat tujuan justru pasien yang sempat didiagnosis terkena penyakit tifus itu justru enggan dievakuasi. Malahan pasien itu mengaku sembuh dan memilih mengungsi ketimbang pindah ke RSUD. Mau tak mau, Ratna hanya bisa pasrah dan menuturi pasien barunya tersebut. ’’Padahal sampai ke sana itu perjuangan banget, basah kusup, nerjang banjir, bahkan mobil ambulans kami sempat terjebak di gang karena saking sempitnya,’’ beber gadis kelahiran 1 maret 1997 itu.

Tak hanya ditolak pasiennya, gadis yang tinggal di RT 01 RW 10 Dusun Saren, Desa/Kecamatan Bandar, itu juga hampir saja tak bisa pulang. Pasalnya, selepas keluar dari rumah pasien, ketinggian banjir makin menjadi-jadi. Tak tanggung-tanggung air hampir menutupi ban mobil ambulans yang dibawanya. Hingga dalam perjalanan pulang, berbagai doa pun keluar dari bibir perempuan berparas manis tersebut. Tak hanya takut terjebak banjir, ternyata dirinya juga tergolong trauma akan sirine ambulans yang meraung di atas kepalanya. ’’Takut saja kalau dengar suara sirine ambulans itu, tapi sekarang sudah terbiasa,’’ kata perempuan yang jadi Duta Pariwisata 2016 tersebut.

Meski menyadari akan tantangan dari pekerjaan yang dilakoninya, justru Ratna enggan lepas dari kegiatan yang diembannya saat ini. Sebaliknya, dirinya justru tertantang membantu sesama. Pasalnya, ragil dua bersaudara pasangan Narti-Supriyadi itu merasa puas saat berhasil meringankan beban pasien yang dirawatnya. Terlebih jadi anggota PSC 119, waktu satu detik amat berarti bagi pasien yang ditanganinya. ’’Senang saja, kalau nanti ketemu pasien yang sudah sembuh lalu dibilangi eh mbak dulu saya yang dirawat itu lho,’’ ucap Ratna menirukan.

Tak hanya menjadi anggota PSC, sesekali finalis Raka Raki Jatim 2017 itu juga didapuk jadi moderator ceremony (MC) di acara-acara penting kabupaten. Terakhir dirinya diminta MC dalam acara Duta Gemar Makan Ikan 2018. Memang sebelum terjun di dunia kesehatan, dirinya gemar tampil di depan khalayak umum. Hingga berbagai gelar pun sempat disabet Ratna. ’’Paskib kabupaten pernah, Duta Lalin 2014, Ketuk Kenang 2016, finalis Raka Raki Jatim 2017, juara I Jambore Kesehatan, menari kolosal di Istana Negara juga,’’ beber Ratna. (mg6/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here