Nurhadi Setiono, Perajin Layang-Layang Parasit

29
LANGGANAN JUARA: Nurhadi Setiono sedang bersiap mengikuti festival di Purworejo, Jogjakarta, Kediri, dan Jakarta.

Layang-layang begitu melekat di benak Nurhadi Setiono. Hobi sejak kecil itu keterusan sampai sekarang. Kini, mainan semasa kecilnya itu menjadi salah satu aset penting dalam hidupnya.

————–

NUR WACHID, Ponorogo

SEJAK kecil Nurhadi Setiono sangat menyukai layang-layang. Bahkan ketika orang tuanya menentang sekalipun, dia tetap ngotot untuk terus bermain layang-layang. Saking sukanya, dia pun berusaha untuk belajar membuat layang-layang sendiri. Hingga kini hobi tersebut terus tersalurkan. Tidak heran di rumahnya di Kelurahan Pakunden, Ponorogo, terdapat layang-layang berukuran jumbo. Di ruang selatan rumah terdapat layang-layang berbentuk kepala naga berwarna merah dan hijau. ‘’Saat itu saya masih SMP,’’ kata Nurhadi.

Pada masa itu, layang-layang yang dikenal pria kelahiran 1974 itu hanya dua jenis. Yakni, layang-layang biasa yang berbentuk segi empat, dan layang-layang sendaren atau petekan (berbentuk bulan sabit). Meski belajar secara otodidak, dia berhasil membuat kedua jenis layang-layang  tersebut. Bahkan, banyak temannya yang berminat untuk dibuatkan. Karena layang-layang buatannya dianggap mudah diterbangkan. ‘’Dulu masih pakai kertas semua bahannya,’’ ujar Nurhadi.

Dari situ, dia pun semakin rajin membuat layang-layang. Hingga kepikiran untuk menjualnya agar bisa mendapat penghasilan sendiri. Akhirnya sejak tahun 1997 silam Nurhadi mulai menekuni kerajinan pembuatan layang-layang. Tapi, ukuran layang-layang belum sebesar sekarang. Pun hanya menjualnya ke teman-teman maupun kenalannya. Serta masih sebatas layang-layang untuk permainan anak-anak. ‘’Lumayan hasilnya, bisa untuk kebutuhan sendiri,’’ tutur suami Dina Dwi Yuliani ini.

Sepuluh tahun kemudian, Nurhadi mulai mengenal ragam jenis layang-layang hias. Kebetulan pada saat itu di Ponorogo ada event festival layang-layang hias. Karena juga hobi, dia pun ikut nimbrung dalam event tersebut. Hingga banyak kenalan sesama pencinta layang-layang. Saat itu dia juga berusaha mencari pengetahuan tentang layang-layang hias. Sambil berpikir tentang cara pembuatannya. ‘’Prinsip saya, jika orang lain bisa buat, kenapa saya tidak bisa,’’ tutur Nurhadi.

Sejak saat itu, dia pun mulai mengembangkan pembuatan layang-layang hias berbahan kain parasit. Dia juga sering diajak mengikuti festival layang-layang hias hingga keluar daerah. Kemampuannya semakin berkembang. Tidak hanya layang-layang dua dimensi yang bisa dia bikin. Juga, layang-layang tiga dimensi bentuk naga dan lainnya. ‘’Saya juga pernah bikin layang-layang tradisional (sesuai karakter daerah),’’ tambahnya sambil menyebut pernah membuat layang-layang Reyog Ponorogo.

Setelah memutuskan pisah dengan temannya, Nurhadi memulai usaha kerajinan layang-layang sendiri. Sekarang usahanya semakin berkembang. Terutama untuk pembuatan layang-layang jenis delta (segitiga berekor panjang). Untuk yang jenis tiga dimensi, hanya dibuat ketika ada pesanan. Pasarnya pun sudah menembus luar daerah dan luar pulau. Kini, dia punya dua pekerja untuk memenuhi permintaan pelanggannya. Dia mengaku, dalam sebulan omzetnya mencapai puluhan juta rupiah. ‘’Pernah sebulan dapat Rp 34 juta. Sudah punya tengkulak dan reseller’’ ungkap Nurhadi.

Selain menekuni usaha kerajinan pembuatan layang-layang, dia juga masih hobi bermain layang-layang. Tapi lebih pada mengikuti festival layang-layang hias. Beberapa kali pula dirinya mendapatkan juara. Saat ini Nurhadi sedang mempersiapkan untuk festival layang-layang di beberapa daerah. Di antaranya Purworejo, Jogjakarta, Kediri, dan Jakarta. ‘’Saya juga pernah ikut festival layang-layang internasional,’’ ucap lulusan SMA Muhipo tahun 1993 ini. *** (fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here