Nugrahanto Tekuni Profesi MC Manten sejak Dua Dekade Silam

310

Karir Nugrahanto Sukardiono sebagai pranatacara pernikahan bermula dari ketidaksengajaan. Dari yang dipaksa menjadi terbiasa. Tanpa meninggalkan pakem, dia memilih bahasa Jawa yang lebih komunikatif saat nyandra sepasang mempelai.

————-

Titi wahyaning mangsa kala dhumawahing kodrat,

awis panguwaosing Gusti kang murbeng jagat.

Titahing Gusti kang wujud jalu lan wanodya,

sambut silaning akrama, nut adat widi widana…

LARIK kalimat yang kerap masuk telinga dalam resepsi pernikahan adat Jawa tersebut dilantunkan dengan merdu oleh Nugrahanto Sukardiono siang itu. Sembari menengadah bertumpu dua telapak tangan pada kursi sandaran, dia tampak meresapi namun tetap kelihatan santai. ‘’Yang barusan saya lagukan itu untuk temu manten,’’ kata Nugrahanto.

Pria itu sudah 20 tahun menekuni profesi sebagai pembawa acara resepsi pernikahan. Jas beskap komplet belangkon kerap membalut tubuhnya dari satu resepsi ke resepsi lainnya. Berdiri sembari memegang mik, berbagai ekspresi pasangan mempelai di pelaminan ditangkap indra penglihatannya. Mulai yang bercucuran keringat sampai pasangan yang haru bahagia. ‘’Dulu jadi MC (master of ceremony, Red) manten karena dipaksa,’’ katanya.

Jauh sebelum terbiasa datang ke sejumlah resepsi pernikahan, Nugrahanto lebih sering berada di ruang siaran. Warga Jalan MT Haryono, Ngawi, ini dulunya seorang penyiar radio swasta. ‘’Waktu itu saya siaran dengan bahasa Jawa dialek Jogja. Dari situ ada tawaran untuk jadi MC manten,’’ kenangnya.

Dahi Nugrahanto berkerut memikirkan tawaran tersebut. Pasalnya, dia sama sekali belum pernah nyandra manten sebelumnya. Setelah pikir-pikir, dia ambil kesempatan  tersebut. Panas hawa sebuah resepsi pernikahan ditambah rasa grogi di kali pertama nge-job MC berujung kucuran keringat yang kelewat banyak. ‘’Membaca buku saya waktu itu. Manten sudah duduk, saya belum selesai,’’ ujarnya sembari tertawa kecil mengingat kejadian pada 1999 tersebut.

Nugrahanto tak mau setengah-setengah. Serampung acara pernikahan, dia segera bertolak ke rumah tiga kenalan yang lebih menguasai tata cara MC manten Jawa. Pun, sejumlah buku referensi yang bertalian dengan pernikahan adat Jawa tak ketinggalan dibacanya.

Dari saran dan belajar otodidak tersebut, lambat laun predikat MC manten Jawa menempel pada suami Ria Perdana ini. ‘’Belajar agak sedikit terbantu karena saya juga suka dengan acara seni-budaya seperti wayang kulit dan ketoprak,’’ tutur pria 50 tahun ini.

Seiring berjalannya waktu, tidak semua yang keluar dari mulutnya saat nyandra manten adalah kosakata sastra bahasa Jawa. Dia begitu lantaran mafhum dengan kondisi khalayak sekarang ini. Bahasa Jawa yang direngga tidak begitu akrab di telinga masyarakat.

Makna yang hendak disampaikan, tidak sempurna ditangkap pendengar. ‘’Tetap tidak keluar pakem, tapi saya memilih beberapa kata yang lebih familier supaya lebih mudah dimengerti tamu undangan,’’ paparnya.

Dua dekade lebih berprofesi sebagai MC manten. beragam pengalaman di tiap acara resepsi sudah dialaminya. Ada satu cerita yang tidak bakal dilupakannya. Waktu itu, seperti biasa dia menanyakan jadi tidaknya permintaan menjadi MC manten. Namun, pertanyaan berujung marah dari salah seorang mempelai yang sudah lebih dulu memesan tersebut. Nugrahanto yang tidak tahu apa-apa, kena omelan lantaran pertanyaan tersebut. ‘’Manten sudah ijab, resepsinya menyusul. Tapi, keduluan cerai sebelum resepsi,’’ ujarnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here