Normalisasi Sungai Jadi Pekerjaan Utama di Tahun Pertama

22
BIANG BANJIR: 41 sungai di Kota Madiun mengalami pendangkalan akibat pembuangan sampah sembarangan.

Pendangkalan atau sedimentasi terjadi hampir di seluruh sungai di Kota Madiun. Tingginya tumpukan sedimen menjadi biangnya banjir tahunan. Tercatat 41 sungai yang mengalami pendangkalan. Menjadi pekerjaan rumah pertama Maidi-Inda Raya (Mada) di tahun pertama kepemimpinannya.

……………

SEDIMENTASI di saluran Terate dan Jalan Pandan tak bisa ditoleransi. Di kawasan itu, air tak bisa mengalir normal. Tertutupi tumpukan tanah cukup parah. Bahkan, sudah memunculkan gundukan di tengah-tengah sungai. Sedimentasi berupa lumpur dan pasir itu juga ditumbuhi lumut dan tetumbuhan air lainnya.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Madiun sampai mengerahkan alat berat untuk menormalisasi aliran sungai tersebut. Selain pembersihan manual dasar sungai di saluran Terate. ‘’Pembersihan sekaligus pengerukan. Sedimentasinya parah sekali. Harus pakai alat berat,’’ kata Kepala DPUTR Kota Madiun Suwarno.

Pembersihan serupa juga dilakukan di saluran Pancasila dan saluran Sumber Umis sampai Jalan Pandan. Lalu, dari saluran Terate barat (hulu) di Jalan Diponegoro ke Kali Sono, sekitar perumahan Rejomulyo, dan berakhir di saluran Terate timur (hilir) yang berada di Kelurahan Sukosari. ‘’Kali Mati di Jalan Mastrip sifatnya pembersihan total,’’ ujar Suwarno.

Tumpukan sedimentasi memang biasa terjadi ketika musim kemarau. Saat musim hujan, aliran sungai cukup tinggi. Banyak material dari hulu yang terbawa menuju hilir. Material berupa pasir dan tanah itu mengakibatkan sedimentasi. Meski tidak berdampak langsung, sedimentasi yang terus meninggi bisa berbahaya. Endapan lumpur bisa menutup gorong-gorong irigasi yang dibuat menuju arah sungai. Sungai yang dipenuhi sedimentasi juga bisa mengakibatkan air meluap ketika musim hujan. Luapan air akan berdampak pada lingkungan sekitar sungai. ‘’Solusinya adalah pengerukan sedimentasi berkala,’’ tuturnya.

Di sisi lain, penanganan banjir menjelang musim hujan dilakukan oleh pemkot dengan mengadakan pompa penggelontor baru. Peningkatan kapasitas dilakukan terhadap pompa air di Jalan Kaswari, Patihan, Sogaten, dan Nambangan Lor. Semua dikerjakan tahun ini dengan total anggaran Rp 4,9 miliar. ‘’Beberapa rumah pompa tidak berfungsi maksimal,’’ sebutnya.

Contohnya, pompa di Jalan Kaswari. Di sana, ada pompa berkapasitas 800 meter kubik per detik. Tahun ini kapasitasnya ditingkatkan menjadi sekitar 1.000 meter kubik per detik. ‘’Nanti, kami tambah dua pompa di sana,’’ katanya.

Pengadaan pompa di Jalan Kaswari itu menjadi salah satu prioritas penanganan banjir. Setelah saluran di Jalan Soekarno-Hatta disudet sampai ke Kaswari dan dibangun outlet yang mengalirkan air ke Kali Madiun. ‘’Ketika debit air masuk ke Soekarno-Hatta dari Demangan sampai ke sana (Kaswari, Red), itu tidak mampu menampung. Meskipun di situ sudah ada pompa air. Karena nanti muaranya ke Kaswari,’’ jelas Suwarno.

Masalah yang sama juga sempat melanda kawasan Sogaten, saat musim hujan lalu. Saat ini, saluran air di wilayah tersebut dilakukan penyudetan dengan pemasangan box culvert. Untuk meminimalkan volume banjir yang sering menggenangi perumahan Sogaten. ‘’Sifatnya hanya meminimalkan. Kami tidak janji bebas banjir,’’ katanya.

Sebenarnya di wilayah Sogaten sudah ada pompa air yang dipasang sebagai sarana pencegah banjir. Jumlahnya ada satu pompa berkapasitas 750 meter kubik per detik. Hanya umur pompa air tersebut telah uzur. Karena merupakan peninggalan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sejak 1989. ‘’Pompa airnya sudah nggak fungsi,’’ ujar Suwarno.

Selain pengadaan permanen, ada pompa air mobile di Patihan yang sewaktu-waktu bisa dipindah sesuai kebutuhan. Saat ini, ada delapan unit pompa air di Kota Madiun. Dua di antaranya milik BBWS Bengawan Solo, enam lainnya milik pemkot. ‘’Di Pancasila ada dua unit. Di Jalan Pandan empat unit,’’ ungkap mantan kepala pelaksana BPBD tersebut.

Wali Kota Madiun Maidi coba mengurai problem tahunan ini dengan menggalakkan pembersihan beberapa sungai. Dia menargetkan, aliran sungai harus lancar. Mengeruk sampah yang selama ini menjadi biang penyumbatan. ‘’Kedalaman yang kurang, kita keruk lagi sampai sungai bisa menampung datangnya air saat hujan nanti,’’ tuturnya.

Antisipasi datangnya banjir juga dilakukannya dengan membentuk petugas jogokali. SDM yang disiapkan DPUTR itu bertugas memantau kondisi sungai saat hujan deras. Dengan harapan, ketika debit air sungai meningkat bisa langsung dilakukan langkah antisipasi. ‘’Kami minta masyarakat tidak membuang sampah di sungai,’’ tegasnya. (her/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here