Normalisasi Grindulu Tunggu Sabo Dam Jadi

89

PACITAN – Pemkab Pacitan angkat tangan atas mencuatnya kembali desakan normalisasi Sungai Grindulu. Dalihnya, kewenangan ada di tangan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). ‘’Pemkab sifatnya mendorong saja. Kalau masyarakat butuh bronjong untuk proteksi permukiman, kalau ada stok kami beri. Kalau butuh peralatan kami bantu,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan Budiyanto kemarin (12/3).

Menurut dia, desakan warga tersebut bagus. Namun, untuk menormalisasi sungai butuh sejumlah pertimbangan. Apalagi, kata dia, kondisi Sungai Grindulu berubah-ubah. Volume air sungai tidak hanya akibat curah hujan yang tinggi. Tapi juga pasang air laut. Dia menilai potensi sedimentasi di Sungai Grindulu tidak terlalu besar. Yang meresahkan justru di hulu, yakni Sungai Parangan. ‘’Mulai Kalitelu, Karangrejo, potensi sedimentasinya tinggi,’’ ujarnya.

Kondisi tersebut jadi sorotan Pemkab Pacitan. Bahkan, berulang kali telah dilaporkan ke BBWSBS. Pasalnya, sedimentasi dengan potensi tinggi meluapnya air mengancam tiga desa di sekitarnya. Yakni, Desa Karangrejo, Guyuhan, dan Arjosari. Sayangnya, normalisasi dengan pengerukan sedimen dianggap kurang efektif. Dalihnya, material sedimentasi dari Gunung Parangan terus turun. ‘’Jadi, turunnya material dari gunung di Karangrejo ini harus ditanggulangi dulu,’’ tuturnya.

Untuk mengatasinya, BBWSBS berencana membangun sabo dam di aliran Sungai Parangan, Karangrejo. Sebuah bendungan berongga untuk menahan material sedimentasi. Detail engineering design (DED) sabo dam sudah dibuat 2018 lalu. Sedangkan tahun ini masuk rencana pembangunan fisik. Diperkirakan dimulai April atau Mei. ‘’Kalau sabo dam pentahapannya belum ada informasi,’’ jelasnya.

Dia memperkirakan normalisasi Sungai Grindulu mulai dikerjakan setelah pembangunan sabo dam selesai. Pasalnya, sebelum ada bangunan penahan tersebut, normalisasi sungai kurang maksimal. Usai pengerukan, titik normalisasi bakal kembali terisi sedimen. Meski begitu, normalisasi tidak lantas digelar dadakan setelah pembangunan sabo dam selesai. ‘’Masih ada tahap kajian lagi,’’ imbuhnya.

Menurut dia, untuk normalisasi perlu perhitungan. Titik mana yang dianggap prioritas untuk dikeruk. Pasalnya, sedimentasi terbentang di tiga desa. Terlebih volumenya pun besar. Selain itu, dipikirkan bakal dikemanakan material sedimen yang telah dikeruk. Termasuk peruntukannya. ‘’Jadi, tidak hanya diambil,’’ ungkapnya.

Proses tersebut sebagian besar dilakukan BBWSBS. Namun, pemkab terus melakukan sinergitas. Termasuk setiap muncul laporan terkait kondisi yang kewenangannya di bawah BBWSBS. Termasuk jebolnya sebagian tanggul Sungai Grindulu. Saat bersamaan, pemkab juga mendorong segera dirampungkan pembangunan Waduk Tukul. ‘’Supaya aliran air seperti dari Nawangan yang bisa mengakibatkan banjir bisa direduksi,’’ tuturnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here