Meski Nilai Ekonominya Tinggi, Petani Kabupaten Madiun Enggan Tanam Melon

123
SEGAR: Petani melon di Desa Jeruk Gulung, Balerejo, Kabupaten Madiun, beraktivitas di sawahnya.

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Minat petani Kabupaten Madiun beralih menanam padi ke melon kala kemarau minim. Data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat menunjukkan tren penurunan luas area panen dalam tiga tahun terakhir. Tahun lalu 13 hektare dari sebelumnya 48 hektare pada 2016.

Minimnya melon musim tanam ketiga ini terlihat di area persawahan Dusun Jurug, Jeruk Gulung, Balerejo. Lahan di antara kantor kejaksaan negeri (kejari) hingga SPBU setempat didominasi padi. Padahal, harga jual tanaman hortikultura itu sedang tinggi. ‘’Sepengetahuan saya, hanya dua orang yang menanam melon. Selain saya, ada satu lagi di sebelah barat,’’ kata Sunaryo, petani setempat, Kamis (22/8).

Sunaryo sudah dua kali menanam melon di lahan seluas 1.500 meter persegi yang disewanya tahun ini. Kali pertama menghasilkan sembilan ton dengan pendapatan kotor Rp 50 juta, Maret lalu. Tiga bulan berselang kembali menanam dengan hasil panen sekitar tujuh ton.  Seorang pengusaha asal Kediri menebusnya Rp 43 juta. ‘’Kalau penghasilan bersih rata-rata ya separo dari pendapatan kotor,’’ ujarnya.

Dia menyebut, keuntungan menanam melon terpaut sangat jauh dari padi. Berkaca tanam pertama awal tahun ini, keuntungan yang didapat Rp 4 juta. Hasil penjualan dua ton gabah senilai Rp 7 juta dikurangi biaya modal Rp 3 juta. ‘’Tapi, saya hanya menanam melon ketika kemarau. Kalau hujan tidak berani karena rentan lalat buah,’’ ungkapnya seraya menyebut lima tahun lalu pernah merugi Rp 11 juta karena salah prediksi menanam melon.

Menurut dia, tetangganya enggan menanam melon karena dua hal. Yakni, butuh modal besar hingga puluhan juta rupiah dan tenaga ekstra untuk merawat. Modal untuk menyediakan bibit dan pestisida. Sedangkan perawatan berupa penyemprotan cairan pembunuh hama. Sebab, semakin rimbun, perawatan harus lebih intensif. ‘’Tiga hari sekali menyemprot dan menghabiskan 25 tangki pestisida,’’ sebutnya.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Sumanto menyebut petani melon hampir ada di setiap kecamatan. Namun, area yang ditanami tidak seluas padi. Lantaran biaya tanam hingga perawatan sangat mahal. ‘’Jadi, yang ditanami hanya beberapa kotak sawah,’’ katanya.

Menurut Sumanto, penurunan luas area melon tiga tahun terakhir hanya dinamika. Sebab, secara umum diklaim meningkat. Itu dibuktikan dengan sumbangan pada produk domestik regional bruto (PDRB) 2018 sebesar 14 persen. Artinya, tanaman seperti cabai, semangka, dan melon punya nilai tinggi. Pihaknya terus berupaya melakukan penyuluhan kepada petani. Sebab, kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,3 hektare. Tidak signifikan bila hanya ditanami padi. ‘’Kami menjalin kemitraan dengan Litbang Pemprov Jatim untuk penyuluhan berkala,’’ ujarnya. (cor/c1/sat)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here