Ngancar, Saksi Masa Kecil Maidi

77

MEMASUKI wilayah Desa Ngancar, Plaosan, udara sejuk langsung menyambut. Sepanjang mata memandang tampak perkebunan sayur di perbukitan gunung Lawu itu. Ada yang tengah menanam sayur, ada pula yang sudah memanen tanaman mereka. Di sanalah, Wali Kota Madiun Maidi menghabiskan masa kecilnya. Di desa yang mayoritas warganya bercocok tanam. Desa paling barat di wilayah Kabupaten Magetan.

Rumah tempat Maidi lahir dan dibesarkan tampak sepi. Pintunya tertutup rapat. Tepat di seberang rumah tersebut, berdiri sebuah sekolah. SDN Ngancar 1, dimana Maidi bersekolah. Bangunan dua lantai itu tampak ramai. Para siswa tengah bermain bola di halaman. ’’Ya, Pak Maidi dulu pernah sekolah disini,’’ ujar Kepala SDN Ngancar 1 Sucipto.

Mantan Sekda Madiun itu lulus tahun 1974 silam. Saat memutuskan macung sebagai wali kota, Maidi juga meminta legalisir ijazah di sekolah tersebut sebagai salah satu persyaratan administrasi. Buku induk yang sudah berwarna kecokelatan menjadi saksi Maidi mengeyam pendidikan dasar di sekolah tersebut. “Saat itu yang kesini asistennya. Mungkin beliau sibuk,” terangnya.

Sayang, bangunan dimana Maidi memperoleh pendidikannya, bukan disitu. Melainkan di bangunan sekolah lama yang kini menjadi kantor desa. Tak sampai 50 meter jaraknya. Dahulu, hanya ada satu kelas. Maklum saja, masyarakat zaman dahulu masih belum mementingkan pendidikan. Tak banyak yang bersekolah. Mereka memilih membantu orang tua bercocok tanam dan menghasilkam uang. “Karena bangunannya dijadikan kantor desa, sekolah dipindah kesini,” jelasnya.

Sucipto yang berasal dari Desa Dadi sedikit bercerita tentang masa kecil Maidi. Sucipto memang tidak satu sekolah. Namun, Sucipto sedikit tahu tentang Maidi. Kawan sepermainan Sucipto banyak yang berasal dari Desa Ngancar. “Tidak banyak yang seusia Pak Maidi itu bergelar sarjana. Mungkin hanya beliau,” terangnya.

Sekitar lima tahun, Sucipto menjadi kepala SDN 1 Ngancar. Namun, Maidi belum sekalipun menengok sekolah masa kecilnya itu. Kendati demikian, Maidi menjadi energi tersendiri bagi siswa dan warga sekitar. Kiprahnya sebagai mantan sekda cukup untuk menginspirasi siswa dan pemuda. Anak gunung yang berjaya di kota tetangga. ’’Supaya anak-anak rajin sekolah. Supaya bisa seperti beliau,’’ ungkapnya.

Desa Ngancar zaman Maidi kecil tidak seperti sekarang. Listrik baru masuk desa tersebut tahun 1989 silam. Itu pun hasil swadaya masyarakat. Dahulu, warga mendorong tiang listrik mulai dari Ngerong, Sucipto salah satunya. Truk tidak bisa masuk ke Ngancar. Jalanan sempit dan terjal. Jalanan diaspal pun baru 1995 lalu. “Desanya tersembunyi,” terangnya.

Lulus SD, Maidi melanjutkan pendidikannya di SMP 1 Plaosan. Sekolah yang sama dengan Sucipto. Namun, Maidi sudah lebih dahulu lulus. Bagi warga Desa Ngancar dan Dadi, ke SMP Plaosan harus dengan perjuangan ekstra. Tak ada kendaraan umum. Apalagi pribadi. Hatus berjalan jingga 5 kilometer jauhnya. “Karena desa kami jauh dari jalan raya,” jelasnya.

Waka Kesiswaan SMPN 1 Plaosan Prayitno juga membenarkan Maidi pernah beraekolah disana. Menjadi kebanggan tersendiri, alumnus SMPN 1 Plaosan menjadi kepala daerah. Biarpun Prayitno tidak mengajar Maidi. Bahkan, sekelas Danlanud Iswayudi Ismono juga pernah bersekolah di SMPN 1 Plaosan. “Bangga, karena sekolah kami melahirkan pemimpin-pemimpin,” pungkasnya. (bel/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here