Nasrudin Getol Melatih Anak-Anak Pacitan Membaca Alquran

14

PACITAN – Sempat galau lantaran kesulitan mencari pelantun Alquran remaja yang andal di Pacitan. Nasrudin pun mencari dan mengasah bibit unggul untuk membaca Alquran dengan indah. Berbekal ilmu dari ponpes di Ponorogo, dengan istiqamah dia melatih  anak-anak.

Puluhan remaja duduk bersila di Masjid Agung Darul Falah Pacitan. Mereka menghadap Alquran masing-masing. Sesekali menirukan Nasrudin yang membacakan ayat. Sementara lainnya, fasih membaca dengan irama serta pendalamaan. ‘’Sepekan sekali kami berkumpul untuk berlatih qiraah,’’ ujar Nasrudin mengawali perbincangan dengan Radar Pacitan.

Selepas kuliah dan mondok di Ponorogo 1995 lalu, Nasrudin galau dengan sulitnya mencari santri yang pandai qiraah. Saat diminta mengisi acara haris besar keagamaan seperti Maulid Nabi hingga pernikahan, kebanyakan santri yang didapat telah dewasa. Bahkan lanjut usia. Saat itu minim remaja yang mampu menguasai nilai, ilmu, seni, hingga etika dalam membaca Alquran. Dia pun tergerak. ‘’Saya terpanggil mempersiapkan anak-anak mengajar jadi qari dan qariah,’’ terang santri Darul Huda, Mayak, Ponorogo, itu.

Awalnya banyak santri dari berbagai kalangan belajar materi yang diajarkan warga Dusun Krajan 3, Semanten, Pacitan, ini. Total lebih dari 70 remaja. Dari siswa SD hingga umum. Mereka datang ke masjid untuk balajar. Di bawah Jamiatul Quro’, tak hanya santri dari kota Pacitan, wilayah lain seperti Pringkuku hingga Sudimoro, juga ikut belajar. Namun, kini tinggal separonya. ‘’Qiraah itu cenderung monoton. jadi kalau tidak maniak sulit bertahan,’’ imbuh ketua Jamiatul Quro’ Pacitan ini.

Selain itu juga lumayan sulit. Kebanyakan santrinya didomintasi perempuan ketimbang laki-laki. Perbandingannya hampir tiga kali lipat. Meski jika dilihat secara kualitas, qari (laki-laki) tergolong lebih bagus ketimbang perempuan. Pun sempat menyabet beberapa kejuaraan di tingkat kabupaten maupun provinsi. ‘’Ada juga perempuan yang berhasil. Seperti Ema santri kami yang keterbatasan indera penglihatan,’’ ujar pria yang juga pengajar PAI di SDN Baleharjo 2, Pacitan, ini.

Nasrudin juga mengajar di Pondok Pesantren Al-Fatah Kikil, Arjosari. Dia berharap ilmu yang ditularkannya bakal berlanjut hingga ke depan. Bersama empat rekannya, keinginan melahirkan qari dan qariah terampil dari Pacitan jadi anggannya. Pun demi menularkan ilmu dan mencari pahala kebaikan meski hanya satu ayat. ‘’Kalau berbakat mudah dibimbing. Bakat kalau tidak dibimbing akan hilang. Kalah dengan yang nekat yang mau lathian rutin,’’ ungkap suami Umi Sudarsih ini.*** (sugeng dwi n/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here