Narapidana Belum Tentu Punya Hak Pilih di Pilkades

34

MAGETAN – Warga binaan Rutan Kelas IIB Magetan terancam dicoret sebagai pemilih pilkades. Sekalipun mereka sebelumnya terdaftar dalam DPT pemilu 2019. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan desa (DPMD) Magetan, Iswahyudi Yulianto Jumat (17/5).

Dia menyatakan tidak ada jaminan para narapidana yang berada di dalam rutan itu bisa menggunakan hak pilihnya saat pilkades serentak digelar pada November 2019 mendatang. Karena kewenangan sepenuhnya ada pada pihak rutan. ‘’Kami perlu berkoordinasi dahulu dengan pihak LP,’’ kata Yuli kepada Jawa Pos Radar Magetan.

Di sisi lain, berapa jumlah warga binaan di Rutan Magetan belum dicatat oleh DPMD. Sehingga perlu dilakukan pemilahan warga binaan yang berasal dari desa penyelenggara pilkades. ‘’Untuk mengetahuinya, kami masih menunggu proses verifikasi data dari disdukcapil,’’ ujarnya.

Namun, Yuli memastikan semua warga desa akan masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) pilkades. Hanya setelah itu dilakukan pencocokan dan penelitian (coklit) untuk memilah kategori pemilih. ‘’Data pemilih tetap ada. Sudah kami siapkan semua,’’ terangnya.

Yang jelas, Yuli mengaku pihaknya tidak dapat mengintervensi rutan untuk memaksa menyelenggarakan pilkades. Karena memang diperlukan persiapan matang. Termasuk dari sisi sarana prasaranya. ‘’Sekalipun statusnya terdaftar sebagai DPT, tapi mereka (warga binaan rutam) tidak bisa hadir,’’ ungkapnya.

Untuk mengetahuinya, Yuli bakal membuat surat permohonan kepada bupati lebih dulu. Selanjutnya, hasil keputusan dari kepala daerah tersebut dijadikan dasar untuk berkoordinasi dengan pihak rutan. ‘’Akan sangat disayangkan jika mereka yang memiliki hak, tapi tidak dapat menggunakannya. Kalau difasilitasi, kami akan siapkan. Kalau tidak, ya mau bagaimana lagi,’’ tuturnya.

Diakuinya, partisipasi warga binaan dalam pilkades itu memang menjadi atensi DPMD. Karena banyak warga asli Magetan yang berada di dalam rutan tersebut. Meski demikian, Yuli belum bisa memberikan kepastian. Pihaknya saat lebih berfokus pada perubahan sistem pilkades. ‘’Dari nyoblos, sekarang ganti elektronik. Tinggal ndudul,’’ ucapnya.

Persiapan yang menjadi fokus kerjanya adalah menata petugas operasional e-voting. Supaya prosesnya dapat berjalan lancar mereka bakal dibekali pelatihan lebih dulu beberapa hari sebelum pelaksanaan pilkades. Termasuk di dalamnya adalah cakades dan calon pemilih. ‘’Kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Supaya pelaksanaan nanti lancar,’’ pungkasnya. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here