Napi Otaki Peredaran Sabu Senilai 4 Miliar

103

MADIUN – Ruang peredaran narkoba di Madiun terus dipersempit. Kamis (2/5) malam, petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim bersama dengan BNNP Riau, BNNK Nganjuk dan BNNK Mojokerto berhasil mengungkap bisnis haram yang diduga dikendalikan oleh narapidana dari dalam Lapas Klas I Madiun.

Tangkapannya kakap. Empat kilogram sabu-sabu (SS). Nilai jualnya mencapai Rp 4 miliar! Kabid Pemberantasan Narkotika BNNP Jatim AKBP Wisnu Chandra menyebutkan, serbuk methamphetamine itu diamankan dari tangan Siti Artiasari, 38, asal Palangkaraya dan Nathasya Harsono, 23, asal Surabaya. Keduanya diduga berperan sebagai kurir. Narkoba yang diamankan BNNP Jatim nilainya jauh lebih besar dibanding saat mereka menangkap Fajar Budiyanto dan Aryanti pada pekan lalu. ’’Sabu-sabu itu dibungkus dalam empat paket teh Cina,’’ katanya, Jumat (3/5) dini hari.

Dia menerangkan pengungkapan itu berawal dari informasi petugas BNNP Riau. Mereka mengidentifikasi adanya rencana pengiriman sebuah paket mencurigakan berisi sabu-sabu melalui pesawat oleh seseorang dari Malaysia melalui Riau.

Dari situ, lanjut Wisnu, petugas kemudian melakukan control delivery terhadap paket yang dimaksud sesuai alamat pengiriman. Namun, belakangan setelah dilakukan pengecekan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara alamat dan nomor handphone yang tercantum dalam resi. ’’Paket itu diamankan dari rumah kontrakan para pelaku di Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun,’’ ujarnya.

Dari hasil penyelidikan sementara, Wisnu menyatakan sabu-sabu itu rencananya bakal dijual di wilayah Karesidenan Madiun. Tetapi, juga secara random masuk ke Mojokerto dan Nganjuk. ‘’Ini dikendalikan dari dalam Lapas Madiun dengan menggunakan perantara yang sudah kami amankan,’’ terang perwira dengan pangkat dua melati di pundak tersebut.

Adapun kesimpulan itu didapat dari hasil intersepsi alat komunikasi yang diamankan oleh petugas dari tangan Siti Artiasari dan Natasya. Total ada empat telepon genggam yang disita petugas.

Dari situ kemudian terdapat cukup bukti bahwa pengiriman serbuk kristal putih haram tersebut dikendalikan oleh dua orang narapidana Lapas Kelas I Madiun. Masing-masing berinisial JS dan AL.

Sejak penangkapan itu, petugas gabungan BNNP Jatim dan Riau, serta BNNK Nganjuk dan Mojokerto langsung berkoordinasi dengan Kalapas Madiun Thurman Hutapea. Hanya, yang bersangkutan sedang berada di luar daerah. Sehingga, penindakan secara langsung ke lapas urung dilaksanakan.

Sementara, dari hasil kalibrasi barang bukti sabu-sabu tersebut bernilai jual sekitar Rp 4 miliar. Dengan asumsi barang haram itu dijual eceran per gramnya sebesar Rp 1,2 juta. ’’Barang ini direct dari Malaysia,’’ ungkap Wisnu.

Dia menjelaskan modus operandi jaringan pengendali yang berada dalam lapas itu berkomunikasi dengan seseorang di Malaysia. Kemudian barang haram tersebut dikirim melalui Riau menuju Surabaya. Sebelum akhirnya dikirim ke Madiun. ’’Sementara kedua pelaku yang kami amankan itu bertugas membawa paket sabu-sabu tersebut. Terkait apakah mereka juga mengedarkan barang tersebut, masih kami dalami,’’ jelas Wisnu.

Lebih lanjut, Wisnu mengungkapkan dari hasil aktivitasnya itu kedua pelaku mendapat upah sekitar Rp 10 juta untuk sekali kirim. Hanya mereka mengaku tak menahu paket itu selanjutnya bakal didistribusikan. ’’Karena mereka sendiri menunggu komando dari napi yang berada dalam Lapas Kelas I Madiun,’’ ungkapnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua pelaku berikut sejumlah barang bukti yang diamankan dibawa menuju ke kantor BNNP Jatim guna menjalani proses penyelidikan. Akibat perbuatannya tersebut, kedua pelaku dijerat pasal 114 ayat (1), pasal 112 ayat (1), jucnto pasal 132 UU 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (her/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here