Napak Tilas Prabu Brawijaya via Jalur Sengolangu

201

MAGETAN – Minat para climbers mendaki Gunung Lawu via jalur Sengolangu sangat besar. Buktinya baru sebulan jalur klasik itu dibuka sudah ada sekitar seribu lebih pendaki yang melewati jalur yang dulunya dijadikan para spiritualis mendaki Gunung Lawu pada era 1980-an. Jalur ini langsung diminati karena terdapat prasasti peninggalan Prabu Brawijaya.

Krisna Bayu, Ketua Sanggar Margolawu mengatakan, jalur Sengolangu sengaja dibuka kembali sebagai wadah napak tilas peninggalan Prabu Brawijaya. Di pos penjagaan terdapat batu yang berdasarkan sejarah pernah digunakan sembahyang Prabu Brawijaya. “Selain itu, pendaki dapat menemukan prasasti batu lapak yang dipercaya sebagai bekas tapak kuda Prabu Brawijaya,” katanya Minggu (16/6).

Dia menambahkan dalam perjalanan jalur tersebut pendaki juga dapat menemukan Cemoro Lawang yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya Prabu Brawijaya bersama patihnya. Menariknya, pendaki bakal melewati kobongan menyan. Yang konon dianggap keramat. “Seluruh pendaki yang melewati tempat tersebut harus membakar kemenyan sebagai izin. Dan, bagi yang tidak membawa kemenyan biasanya meninggalkan bekal di tempat itu,’’ ungkap Bayu.

Selain lekat dengan sejarah, jalur itu juga menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Seperti sumber mata air dan berbagai jenis tanaman yang menghijau. Disamping itu jalur tracknya cukup landai. ‘’Tetapi ada satu track yang cukup menanjak,’’ ungkapnya.

Track yang dimaksud itu adalah tanjakan Penggik. Tanjakan sepanjang 500 meter itu cukup menguji tenaga dan adrenalin lantaran memiliki kemiringan 45 derajat. ‘’Tapi justru itu yang paling menantang,’’ ungkapnya.

Bayu mengungkapkan untuk sampai ke puncak Gunung Lawu melalui jalur Sengolangu para pendaki harus menempuh jarak 8,2 kilometer. Dengan waktu tempuh sekitar delapan jam. Sementara jalur lain seperti Cemoro Sewu dapat ditempuh dengan jarak 6-7 kilometer,  Cemoro Kandang 14 kilometer, dan Candi Cetho 15 kilometer.

Dia menambahkan jalur itu memiliki lima pos yang dapat digunakan beristirahat bagi pendaki. Tiap pos memiliki ciri khas pemandangan tersendiri. Misalnya hamparan Bunga Eidelweis hingga tembus ke Sendang Sunan Drajat. ‘’Kami berharap seluruh pihak turut menjaga agar jalur ini semakin ramai,’’ tuturnya.

Selama ini, kata Bayu, jalur tersebut dikelola secara swadaya. Selanjutnya, dia berharap jalur itu mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat. Sekaligus membuka potensi wisata baru. ‘’Pantangannya berpakaian hijau, dan terpenting dilarang membawa tisu basah serta membawa turun sampah yang dibawa. Naik dan turun kami cek,’’ ucapnya. (mg7/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here