Nanjak di Gradien 19 Persen, Hybrid Tetap Ngibrit

185
UNITED SLICK: Sugiyono, cyclist Radar Madiun Cycling Club (RMCC), saat loading carbo di Pasar Gondosuli.

Kabupaten Madiun kaya akan destinasi wisata. Selain dipameri indahnya panorama, ’’bumbunya’’ juga luar biasa. Ingin tahu apa bumbunya? Turunannya aduhai. Tanjakannya semlohai. Itulah bumbu menuju beberapa lokasi wisata yang penulis kunjungi dengan sepeda hybrid United Slick.

DESTINASI wisata Nongko Ijo, Negeri Atas Angin Padas, dan Watu Rumpuk merupakan lokasi yang tepat untuk mengurai penat. Selain eksotis, pemandangan yang disuguhkan di seluruh lokasi wisata tersebut bikin hati jadi adem. Ketegangan seminggu di kantor langsung lumer begitu melihat goyangan pohon pinus di Nongko Ijo, Kecamatan Kare. Ruwetnya rumah tangga dijamin langsung terurai begitu tersapu hawa pegunungan Negeri Atas Angin, Desa Padas, Dagangan. Sulitnya transaksi akan ada solusi begitu menghirup udara di Watu Rumpuk, Desa Mendak, Dagangan.

Berangkat dari info itulah, goweser se-Madiun Raya menjadikan lokasi wisata itu sebagai destinasi favorit. Rasanya belum ke Kare kalau belum nanjak di jurang Ndengkeng sebelum sampai Nongko Ijo. Rasanya belum melihat indahnya hutan Segulung kalau belum singgah ke Negeri Atas Angin, Desa Padas, Dagangan. Dan ini yang paling menantang: belum merasakan jalan geronjalan kalau belum gowes ke Watu Rumpuk. Wakakakakak….

GOWESER MADIUN: Setelah lolos tanjakan jurang Ndengkeng dan tanjakan Gondosuli, para cyclist Madiun loading carbo di warung Mbak Reni, Kare.

Gambaran yang menarik itu lantas bikin saya ingin membuktikan sendiri. Kali pertama yang saya sambangi adalah lokasi wisata Nongko Ijo, Kare. Dilihat dari namanya, kabarnya di sana banyak nongko (nangka)-nya. Untuk membuktikan kebenaran kabar tersebut, tentu saya harus datang sendiri ke lokasi yang berada di atas 1.000 meter dari permukaan laut (mdpl) itu. Agar kondisi prima, saya memutuskan tidur cepat. Sebab, esok akan menjadi pengalaman pertama saya. Yakni, menanjak di atas ketinggian 1.000 mdpl dengan sepeda hybrid. Biasanya memakai road bike (sepeda balap). Seru pastinya pakai hybrid.

Waktu menunjuk pukul 06.00. Jalan raya Kota Madiun masih belum terlalu padat. Lalu-lalang sepeda motor masih bisa dihitung dengan jari. Tapi, kalau waktu sudah merambat hingga pukul 06.30, jangan tanya bagaimana suasana jalan raya. Crowded. Pemadangannya persis di sirkuit balap. Para pengendara seperti berlomba paling duluan mencapai garis finis. Saling salip. Saling beradu cepat. Dan kalau perlu, saling tidak mau mengalah. Entah itu roda dua atau roda empat. Pertanyaannya, apakah mereka lupa kalau sedang berkendara di jalan raya?

Sebelum kepancal crowded-nya lalu lintas, saya langsung menyambar sepeda hybrid United Slick yang sudah tersandar di pagar depan rumah. Butuh waktu 15 menit untuk membiasakan mengendarai hybrid warna hijau kombinasi putih itu. Sebab, shifter-nya beda dengan sepeda yang biasa saya kendarai. Selain shifter, handlebar hybrid-nya juga beda. Yakni, flat. Hanya itu saja perbedaannya. Tapi, setelah 15 menit di atas sadel, saya sudah tidak kagok lagi. Sebab ’’BBM’’-nya sama. Yakni, memakai kaki. Kalau ingin BBM serasa pertamax, dengkul harus dilatih semaksimal mungkin. Sebab, kalau BBM-nya masih seperti minyak tanah, artinya dengkul butuh latihan ekstra lagi.

Sesampai di perempatan Manisrejo, persisnya di halaman toko besi, goweser dari berbagai komunitas sudah berkumpul. Sekadar tahu saja, toko besi itulah ’’terminal’’ kami sebelum menikmati rute menanjak ke Kare, ke Kepel, atau ke Bodag. ”Mari kita berangkat. Keburu siang nanti,” kata Sunarto, purnawirawan TNI yang sebelum pensiun berkantor di Koramil Nawangan, Pacitan.

Karena teman-teman mayoritas memakai road bike, saya harus menaikkan power. Langkah ini saya lakukan agar tidak ketinggalan terlalu jauh dengan peloton. Butuh waktu 35 menit untuk sampai ke Pasar Dungus dari lokasi start perempatan Manisrejo. Jaraknya hanya 10 kilometer. Tapi, jalannya sudah mulai naik. Meski tifis-tifis. Setelah menenggak air dari bidon, saya menarik napas panjang. Sepanjang-panjangnya. Sebab, hanya di pasar inilah kesempatan saya untuk bisa melepas penat. Sebab, selewat pasar, tanjakan akan terus menemani sebelum sampai di lokasi wisata Nongko Ijo.

Selepas pasar, persisnya di depan Polsek Wungu, jalan mulai menanjak. Di sinilah saya harus bermain cantik memainkan shifter. Karena shifter-nya sangat mudah dikendalikan, saya tidak keteter dengan teman-teman lain. Ingin tahu bagaimana mengendalikan shifter-nya? Cukup diputar. Simpel kan? Selepas tanjakan Polsek Wungu, jalan terus merambat naik hingga daerah palang milik Perhutani sampai masuk Desa Kuwiran.

Di Desa Kuwiran, keandalan sepeda bersetang datar ini mulai diuji. Dengan tanjakan yang rata-rata bergradien 5, hybrid United Slick mampu mengatasi dengan baik. Meski dengan frame yang full steel, nyatanya laju sepeda tidak terlalu terpengaruh. Tetap mampu mengimbangi laju road bike saat di tanjakan. Memasuki kawasan Bringin, tanjakan makin tinggi. Untungnya, crank United Slick menyediakan 3 gear. Begitu tanjakan menusuk hati, crank depan langsung saya posisikan di gigi paling kecil, yakni 32. Aman sentosa. Gowes icik iwir dimulai saat di tanjakan. Di sinilah candence (putaran) berperan.

Lolos di Beringin, tanjakan maut berikutnya sudah di depan mata. Namanya tanjakan jurang Ndengkeng. Bagi goweser Madiun, tanjakan jurang Ndengkeng adalah tanjakan ’’paling bergizi’’. ”Sesuai catatan di garmin saya, gradien jurang Ndengkeng mencapai 19 persen. Maut memang tanjakannya,” kata Iwan Yoshinata yang setia dengan sepeda Pinarello F-10.

Berkat 3 crank yang dimiliki United Slick inilah, saya mampu menaiki ’’tanjakan bergizi’’ jurang Ndengkeng dengan baik. Tentu dengan ekstrasabar. Sebab, kalau gowesnya kemrungsung, saya akan putus di tengah jalan. Sebab, selain tanjakannya tinggi, panjangnya sekitar 300 meter. “Naik sepeda beda dengan naik motor. Kalau naik motor tinggal ngegas saat naik di jurang Ndengkeng. Kita ngegasnya pakai kaki. Kalau tidak sabar dan cermat, baru jalan 100 meter bisa putus. Dan nuntun 200 meter lagi itu tambah capek. Karena naik,” kata Biyanto, 62 tahun,  mantan pegawai Pemkot Madiun.

Lolos dari jurang Ndengkeng, saya kembali diuji. Kali ini tanjakan terakhir, yakni tanjakan Gondosuli. Meski hanya bergradien 16 persen, tetap bikin ngeper goweser. Sebab, tanjakannya kelihatan melip (tinggi sekali). Tapi, kalau menurut saya, tanjakan Gondosuli itu menipu. Sebab, setelah dinaiki, nyatanya tidak sengeri saat dilihat. Begitu digowes, nyatanya bisa sampai puncak. ”Bener Pak, tanjakan Gondosuli itu menipu. Fatamorgana. Kelihatannya tinggi ternyata tidak,” kata Tan Swie Lay, goweser berumur seksi (seket luwih siji).

Setelah lolos dari dua tanjakan tadi, untuk sampai ke lokasi wisata Nongko Ijo tidak terlalu berat. Hanya roling-roling dan sekali tanjakan, kita sudah sampai ke lokasi yang dipenuhi hutan pinus. Dan lagi-lagi, United Slick mampu melewati. ”Lha ternyata tidak ada nangkanya. Yang ada malah hutan pinus. Harusnya Pinus Ijo. Sebab, daun pinusnya kan warna hijau,” kata Sugiyono, staf event organizer yang tergabung dalam Radar Madiun Cycling Club (RMCC). *****(ota/c1/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here