MagetanPeristiwa

Nahas! Pasutri Meregang Nyawa Diterjang Kereta Api

Tak Berpalang Pintu, Alarm Tidak Berfungsi saat Kejadian

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Pasangan suami istri (pasutri) meregang nyawa dihantam kereta barang Kamis pagi (2/7). Nahas yang menimpa Karimun, 61, dan Sutrismi, 59, itu terjadi di perlintasan kereta api (KA) Km 178+6 masuk Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, sekitar pukul 06.30. Sedianya, pasutri dari desa setempat itu dalam perjalanan menuju warung mereka di Pasar Keras, Geneng, Ngawi. ‘’Info dari warga yang tinggal dekat perlintasan, keduanya sempat diingatkan saat ada kereta melintas,” ungkap Lajer, keluarga korban.

Mengendarai Yamaha Mio AE 3616 KN, keduanya melaju dari arah timur. Keduanya tidak waspada saat kereta melintas dari arah utara. Kecelakaan pun tak terhindarkan dan keduanya meninggal di lokasi kejadian setelah terseret sejauh 50 meter. ‘’Motornya hancur karena tertemper kereta api,’’ lanjutnya.

Saat kejadian, alat pendeteksi dini tidak berfungsi. Sehingga, saat ada kereta melaju, alarm tidak berbunyi. Sudah beberapa kali, satu-satunya alat pengaman di perlintasan tak berpalang pintu rusak. Sudah dilaporkan ke pemerintah desa setempat dan beberapa kali telah diperbaiki. Namun, rusak lagi. Kengerian jalur perlintasan sebidang itu semakin tinggi setelah jalur ganda (double track) telah beroperasi. ‘’Bisa saja ada kereta simpangan. Satu lewat dan satunya belum lewat. Ini yang kami takutkan,’’ ungkap Lajer.

Kerawanan diperparah kondisi palang yang tak pernah dijaga. Setiap pengendara yang melintas harus mengandalkan diri sendiri agar tetap selamat. Padahal, jalur yang dilewati korban setiap hari itu merupakan penghubung antardesa. Mengulang kecelakaan serupa dua tahun silam. ‘’Kejadian ini langsung kami koordinasikan dengan PT KAI. Kami harap warga lebih berhati-hati,’’ ucap Kapolsek Barat AKP Ruwajianto. (fat/c1/fin)

Keselamatan Pengguna Jalan Dipertaruhkan

Kecelakaan pasutri diterjang kereta barang menegaskan betapa rawannya perlintasan tak berpalang pintu. Di Magetan, dari lima perlintasan, tiga di antaranya tak berpalang. Selain di Jonggrang, Barat, yang mencelakakan pasutri kemarin, juga di Pesu, Maospati, dan Bayemtaman, Kartoharjo. Keselamatan pengguna jalan benar-benar dipertaruhkan.

Kepala Dishub Magetan Joko Trihono membenarkan sistem peringatan dini tidak berfungsi maksimal. Sehingga tidak berbunyi setiap ada kereta lewat. ‘’(Jika berbunyi) seharusnya pengendara berhenti terlebih dulu sebelum menyeberang perlintasan,’’ ujarnya.

Sementara perlintasan Bayemtaman, Kartoharjo, yang sudah berpenjaga, sifatnya sukarela. Di sana minim kecelakaan kereta. Berbeda dengan dua perlintasan lain. ‘’Kami apresiasi warga yang bersedia menjadi sukarela,’’ tuturnya.

Sampai kini, pemkab kewalahan jika harus memasang palang pintu di perlintasan sebidang. Sebab, anggaran di satu perlintasan ditaksir mencapai Rp 1,5 miliar. Belum lagi jika harus memenuhi tenaga penjaga yang idealnya delapan orang di setiap perlintasan. ‘’Saya hitung gaji mereka setahunnya sudah lebih dari seratusan juta,’’ ungkapnya.

Pun, perizinan untuk memasang palang pintu sampai kini belum terfasilitasi dengan baik. Koordinasi yang dilakukan selama ini kurang efektif lantaran level kewenangannya sudah pemerintah pusat. Banyaknya jalan tikus yang dibuka masyarakat di dekat perlintasan juga merepotkan. Membuat polisi khusus kereta (polsuska) harus lebih cermat saat mengawal perjalanan KA. ‘’Kami butuh bantuan PT KAI,’’ ucapnya.

Manajer Humas PT KAI Daop VII Madiun Ixfan Hendriwintoko mengaku sempat diminta memberikan sosialisasi kepada masyarakat Magetan. Salah satunya mengedukasi kerawanan perlintasan tak berpalang pintu di Bayemtaman, Kartoharjo. Terkait pemasangan alat peringatan dini, PT KAI cukup terbantu. Namun, disayangkan jika sampai warga membuat jalan tikus di sekitar perlintasan KA. Sesuai amanat UU 23/2007 tentang Perkeretaapian, yang bertanggung jawab terhadap perlintasan sebidang adalah pemerintah daerah berdasarkan kelas jalannya. ‘’Perjalanan kereta terancam karena tidak rem mendadak,’’ terangnya. (fat/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close