Mutasi Antardaerah, Pendidik Pacitan Digeser ke Ponorogo

220

PACITAN – Alih kelola SMA/SMK ke pemerintah provinsi (pemprov) mulai berdampak pada mutasi kepala sekolah. Kini tidak hanya dalam satu daerah, melainkan antardaerah. Kepala SMAN 1 Tegalombo Pacitan Sasmito Pribadi misalnya. Dia dimutasi jadi kepala SMAN 1 Babadan Ponorogo. Sebaliknya, jabatan kepala SMAN 1 Tegalombo diisi guru asal SMAN Jenangan Ponorogo Sutrisno.

Menurut Kepala UPT Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Pacitan Bambang Supriyadi, rotasi tersebut sesuai instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait pemerataan kualitas pendidikan. Pun mempertimbangkan kecocokan guru untuk ditempatkan di lokasi kerja baru. Masalah jarak lokasi kerja, dia menyebut itu sudah konsekuensi. ‘’Ini masih dekat, ada juga yang dari Nganjuk ke Magetan,’’ katanya.

Rotasi tersebut atas usulan UPT Cabdindik Jatim Wilayah Pacitan. Hanya, keputusan akhir jadi kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim dan gubernur Jatim. Sedangkan dasar pengajuan tersebut salah satu akibat kekosongan jabatan kepala sekolah di Pacitan. ‘’Ada yang pensiun dan meninggal dunia,’’ ujarnya.

Bambang mengungkapkan, rotasi tidak hanya untuk kepala sekolah SMAN 1 Tegalombo. Masih ada lima kepala sekolah lainnya. Yakni, kepala SMKN Donorojo, SMKN 1 Nawangan, SMAN 1 Nawangan, SMAN 2 Pacitan, dan SMAN Tulakan. ‘’Kecuali SMAN 1 Tegalombo, semua diisi dari Pacitan,’’ imbuhnya.

Menurut dia, jarak tinggal dan lokasi kerja yang jauh diklaim tidak menghambat pelaksanaan pendidikan. Sebelum otonomi pendidikan diberlakukan, sejumlah tenaga pendidik dan kepala sekolah di Kabupaten Pacitan juga berasal dari luar daerah. Seperti Ponorogo, Surabaya, Solo, dan lainnya. Pihaknya menyarankan agar pejabat dari luar daerah tersebut menetap di tempat kerja barunya. ‘’Tempat tinggal bisa di sekolah atau cari sendiri,’’ jelasnya.

Rotasi tenaga pendidik ini tidak berlaku untuk guru tidak tetap (GTT). Mereka hanya bisa dipindah jika ada kesepakatan khusus. Salah satunya pemenuhan jam mengajar delapan jam. Sementara itu, kemungkinan rotasi GTT pun kecil. Itu mengingat krisis guru SMA-SMK juga terjadi di Pacitan. ‘’Kekurangannya sekitar 300 orang tenaga pendidik,’’ ungkap Bambang.

Meski begitu, hingga saat ini rencana jadwal serah terima jabatan belum dipastikan. Perkiraannya pekan ini atau pekan depan. Pertimbangannya, pelaksanaan ujian nasional yang menyisakan hitungan bulan. ‘’Kurang lebih tinggal tiga sampai empat bulan lagi ujian nasional. Sehingga, harus secepatnya diserahterimakan. Minggu ini atau minggu depan,’’ ujarnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here