Ponorogo

Musim Kemarau, Waspadai Kebakaran Hutan dan Lahan

Biangnya Ulah Manusia

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Ponorogo relatif tinggi. Berdasarkan data 2018 dan 2019, lima kecamatan rawan diamuk si jago merah saat musim kemarau. ‘’Ini perlu kita waspadai bersama,’’ kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo Imam Basori Selasa (25/8).

Imam menyebut, pada 2018 lalu total 166,3 hektare hutan dan lahan terbakar. Sementara, 2019 berkurang namun masih cukup luas. Yakni mencapai 59,5 hektare. Tercatat karhutla terjadi di Badegan, Sampung, Slahung, Sambit, dan Sawoo. ‘’Rata-rata yang sering terbakar adalah hutan pinus dan semak belukar,’’ terangnya.

Tahun ini, karhutla pertama terjadi beberapa pekan lalu. Total 0,75 hektare yang hangus di wilayah Jambon. Api dapat dijinakkan sebelum meluas. ‘’Pertama di 2020 ini, semak belukar hutan di Jambon,’’ sebut Imam.

Imam mengungkapkan, sejak 2018 lalu penyebab utama karhutla adalah human error. Di sejumlah kecamatan rawan, petugas sering mendapati biangnya adalah ulah manusia. Warga acap membersihkan lahan dengan cara membakar. ‘’Tapi setelah itu ditinggal. Padahal, angin di musim kemarau cukup kencang. Sehingga, mudah mengobarkan api,’’ jelasnya.

Hal ini perlu jadi perhatian bersama. Beberapa waktu lalu, Polri-TNI dan pemkab telah menggelar apel kesiapsiagaan bersama untuk mengantisipasi karhutla. Perlu koordinasi intens lintas sektor agar penanganannya cepat dilakukan. ‘’Selain itu, diperlukan sosialisasi intens kepada masyarakat, karena membakar hutan juga ada sanksinya,’’ tutur Imam. (naz/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close