Musim Kemarau, Musim Kebakaran

10
WASPADA: Sejumlah papan peringatan dipasang di sepanjang jalur Pacitan-Ponorogo mengantisipasi warga yang lalai membuang puntung rokok sembarangan di pinggir hutan.

PACITAN – Musim penghujan atau kemarau, sama-sama berpotensi mengakibatkan bencana di Pacitan. Apalagi, hampir seluruh wilayah kecamatan rawan. Memasuki musim kemarau kali ini, kebakaran hutan dan (karhutla) wajib diwaspadai. ‘’Saat ini masuk musim kemarau. Bahkan sudah ada wilayah kebakaran,’’ kata Kasi Pengendalian dan Operasional Pemadam Kebakaran Satpol PP Pacitan Bambang Supriyanto Senin (17/6).

Bambang mengungkapkan, pada malam Idul Fitri lalu kabakaran hutan sempat terjadi. Yakni di wilayah Tamperan. Tepatnya di tepi jalur lintas selatan (JLS). Kobaran api menjalar di bukit tak jauh dari permukiman warga. Sehingga petugas pemadam kebakaran (damkar) harus mengamanankan lokasi dari amuk si jago merah. ‘’Beruntung, dapat kami kendalikan sehingga api cepat padam,’’ ujarnya.

Karhutla, lanjut Bambang, memang acap terjadi terutama pada musim kemarau. Tahun lalu, pihaknya mencatat 40 kasus kebakaran. Kasus tersebut didominasi kebakaran lahan 12 kejadian dan hutan 13 kejadian. Belum lagi beberapa wilayah acap tak melaporkan kejadian kebakaran hutan. Sementara sisanya kebakaran rumah dan pabrik. ‘’Kebakaran pabrik playwood atau tripleks ada sekitar enam kasus tahun lalu,’’ ungkapnya.

September, jadi puncak kebakaran di Pacitan tahun lalu. Dari total kasus, 21 di antara terjadi dalam bulan tersebut. Namun, sejak Mei sudah mulai terjadi. Bambang menilai potensi kebakaran di Pacitan tak bisa dianggap enteng. ‘’Apalagi beberapa kasus terjadi di perbukitan yang sulit diakses. Sehingga, petugas harus melakukan pemadaman secara manual,’’ jelas Bambang.

Dia menambahkan faktor manusia jadi penyumbang kasus tertinggi. Biasanya berawal dari warga yang membakar sampah dekat kawasan hutan. Alhasil, percikan bunga api bertebaran hingga merembet ke hutan. Kasus lainnya dipicu warga yang membuang puntung rokok sembarangan di tepi jalan pinggir hutan. ‘’Karena hampir semua wilayah Pacitan berbatasan dengan hutan,’’ tuturnya.

Sedangkan penyebab kebakaran rumah, selain korsleting listrik, juga berasal dari perapian memasak warga yang masih tradisional. Tak jarang mereka lalai dan teledor meninggalkan perapian yang masih menyala. Hingga merembet dan membakar seisi rumah. ‘’Kami sudah buat surat edaran rawan kebakaran yang akan dibagikan ke setiap kecamatan untuk disosialisasikan,’’ pungkas Bambang sembari menyebut memiliki tiga armada damkar dan satu water supply. (gen/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here