Musa Hendri Setiawan Hadirkan Nuansa Jadul di Kafenya

124

Kafe milik Musa Hendri Setiawan di Caruban seolah membawa pengunjungnya kembali ke masa lalu. Ya, kafe itu dipenuhi pernak pernik jadul. Mulai wayang, seterika arang, hingga perabot buatan setengah abad silam.

———–

DUA wayang kayu ukuran jumbo seolah menyambut setiap tamu begitu menginjakkan kaku di kafe milik Musa Hendri Setiawan. Patung Loroblonyo di depan bangunan menambah kesan tradisional tempat itu.

Masuk ke dalam, pengunjung disuguhi berbagai pernik jadul. Mulai cermin antik. Lampu minyak, seterika arang, wayang kulit, topeng tokoh pewayangan, hingga cello dan bass. Perabot kafe sebagian juga terbilang klasik. Kursi, misalnya, model 1960-an.

Barang-barang antik di kafe yang baru sekitar setahun berdiri itu mayoritas diperoleh dari kenalan Musa dan sebagian pelanggan. ”Biasanya yang sudah sepuh saya tanyai, kira-kira di rumah ada barang antik atau nggak,” kata Musa.

Koleksi barang antik milik Musa ditebus dengan harga beragam. Sepasang wayang kayu di depan kafe yang diperoleh dari Wonogiri, misalnya, dibeli seharga Rp 3,5 juta. Ada pula perabot antik khas Jawa yang ditebus Rp 5 juta. ‘’Semuanya tidak saya poles, biar kesannya kuno sekalian,’’ ujarnya.

Musa terbilang beruntung bisa mendapatkan sepasang patung Loroblonyo yang kini ditaruh di depan kafenya. Barang tersebut dibeli di Bali hanya seharga Rp 750 ribu. ‘’Saya segera angkut, soalnya itu termasuk murah,’’ kenang warga Jalan Ahmad Yani, Caruban, itu.

Meski nuansa jadul sudah kental menghiasi kafenya, Musa belum merasa puas. Dia memiliki keinginan menambah ornamen dongkrek, kesenian khas Kabupaten Madiun.

Khusus malam Minggu, kafe milik Musa menampilkan karawitan, meski pelanggan didominasi anak muda. ‘’Biar mereka tahu kalau yang tradisional itu tidak hanya benda-benda, tapi juga musik,’’ katanya. ***(fatihah ibnu/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here