Momentum Benahi Sistem Jalur Perkotaan Madiun

44

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Problem transportasi perkotaan terus berkembang. Berbagai dampak bakal dirasakan. Terlebih, sejak difungsikannya jalan bebas hambatan di tahun lalu. Tata transportasi perkotaan harus disiapkan sedini mungkin untuk menghindari persoalan-persoalan di hari depan.

Direktur Politeknik Negeri Madiun (PNM) M. Fajar Subkhan menyatakan, saat ini menjadi momentum tepat bagi pemkot untuk membenahi sistem transportasi perkotaan. ‘’Mumpung belum jadi kota dengan kerumitan masalah transportasi,’’ ujarnya.

Dalam merencanakan tata kelola transportasi, pemkot bisa melibatkan akademisi, bisnis, community, government, dan media (ABCGM). Seluruh pihak yang dilibatkan dapat memberikan masukan. Terkait kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mengurai permasalahan transportasi ke depan. Apalagi jalan tol telah beroperasi. Meskipun lokasinya di luar kota, namun imbasnya terasa di kawasan perkotaan. ‘’Tata guna lahan juga berhubungan dengan transportasi,’’ imbuh pakar perencanaan wilayah kota lulusan Universitas Brawijaya (UB) itu.

Dari stakeholder terkait, diharapkan tercetus tata transportasi yang komprehensif dan terintegrasi. Fajar menggarisbawahi kebijakan yang telah dan akan digulirkan. Yakni, one way yang masih menuai polemik, lajur sepeda, dan angkutan sekolah gratis. ‘’Jadi intinya tata kelola transportasi harus terintegrasi dan komprehensif,’’ tegasnya.

One Way

Fajar menjelaskan bahwa one way merupakan bagian rekayasa lalu lintas yang mengatur transportasi. Penerapan one way dilatarbelakangi beberapa hal. Di mana, ruas jalan tidak sanggup lagi menampung volume kendaraan yang terus meningkat. ‘’Sebagai solusi setelah kajian kepadatan kendaraan dilakukan,’’ tuturnya.

Konsekuensi penerapan one way harus diimbangi dengan jalur alternatif. Biasanya, jalur alternatif harus memutar dan jarak tempuhnya semakin jauh. Hal itu, tegas Fajar, merupakan kelemahan dari one way. Terkait one way di perempatan Jalan PB Sudirman-dr Sutomo hingga perempatan Jalan Bali-Kenari yang bakal diterapkan, dia menyoroti permasalahan hambatan samping. Terutama masalah parkir di sekitaran jalur tersebut. ‘’Jalan Bali itu sudah padat karena tata kelola parkir yang kurang maksimal,’’ ungkapnya.

Seharusnya, jalur tersebut dijadikan kawasan bebas parkir. Toko yang tersebar di sepanjang jalan harus menyediakan lahan parkir khusus. Sebab, jalur tersebut bakal menjadi jalur alternatif akibat penerapan one way. ‘’Penataan parkir di Jalan PB Sudirman juga harus diperhatikan,’’ katanya.

Lajur Sepeda

Sesuai rencana, lajur sepeda sepanjang 2,8 kilometer bakal diterapkan pertengahan bulan ini. Fajar menilai lajur itu penting. Guna memberikan hak kepada pengguna jalan terkecil non bermotor. Pun berfungsi melindungi pengendara sepeda. Sehingga tercipta kota yang ramah untuk semua pengguna jalan. ‘’Saya sangat setuju dengan rencana lajur sepeda itu,’’ ucap Fajar.

Hanya, kebijakan itu harus betul-betul dikawal dengan penegakan hukum yang ketat. Baik pengendara yang menyalahgunakan lajur sepeda untuk parkir maupun dilewati kendaraan bermotor. Sebagaimana diatur dalam Perda Nomor 37/2018. ‘’Sudah ada landasan hukumnya, jadi harus ditindak betul-betul,’’ pintanya.

Pembuatan lajur sepeda juga harus disesuaikan dengan lebar jalan. Jangan sampai ditempatkan di jalur sempit. Sehingga mengganggu pengguna jalan lain. ‘’Lajur sepeda juga tidak boleh mengganggu pengguna jalan lain. Karenanya, butuh jalur yang cukup lebar,’’ ujarnya.

Angkutan Sekolah Gratis

Terkait angkutan sekolah gratis (ASG), Fajar mengapresiasi langkah pemkot terus meningkatkan pelayanan inovatif. Penyediaan ASG dipandangnya sebagai upaya percepatan dalam menciptakan kota ramah anak. ‘’Barangkali, jumlahnya perlu ditambah hingga dapat melayani seluruh pelajar di kota,’’ kata Fajar.

ASG digulirkan pemkot sejak Februari lalu. Terdiri dari 3 bus sekolah dan 20 mobil pengangkut umum (MPU) yang mengangkut sedikitnya 420-an pelajar. Menurut Fajar, bus tersebut harus ditambah untuk dapat mengangkut seluruh pelajar serta penambahan fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. ‘’Misalnya perpustakaan atau fasilitas lain yang menunjang belajar siswa,’’ ungkapnya. (kid/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here