Ngawi

Momen Lebaran, Sukarwati Kebanjiran Order Kue Gapit

Momen Lebaran membawa berkah bagi perajin kue gapit. Tanpa kecuali Sukarwati. Warga Desa Dawu, Paron, ini mampu meraup untung berlipat dari produksi kue tradisional itu.

———————

DENI KURNIAWAN, Ngawi

SEMBARI duduk lesehan, Sukarwati sibuk mengamati kompor gas di hadapannya. Sesekali dia mengaduk adonan yang ditaruh tak jauh di sampingnya. Beberapa saat kemudian, perempuan itu membuka cetakan berbentuk persegi dengan dua sisi berapit berpegangan kayu.

Tangan kirinya menahan cetakan agar tetap terbuka. Tangan sebelah meraih tongkat kayu kecil. Lempengan kue yang sudah matang, seketika menjadi gulungan setelah Sukarwati memelintirnya dengan tongkat kayu kecil. ‘’Kue gapit ini namanya,’’ kata Sukarwati.

Wajar saja jika Sukarwati begitu lihai membuat kue gapit. Dia menekuni bisnis kue tradisional tersebut sudah lebih dari 20 tahun. Berlama-lama menghadap kompor dengan peranti produksi sudah menjadi keseharian warga Desa Dawu, Kecamatan Paron, Ngawi, itu.

 ‘’Dulu orang tua saya juga membuat gapit. Belajar membuat, kemudian saya variasi bentuknya. Ada yang gulungan dan ada juga yang pincuk seperti ini,’’ jelas Sukarwati sembari menunjukkan dua bentuk kue yang disebutkan. ‘’Dulu cuma gepeng,’’ imbuhnya.

Pada momen Lebaran seperti sekarang ini, kue gapit bikinan perempuan 54 tahun itu laris manis. Sukarwati mulai kebanjiran order sejak Ramadan. Produksinya meningkat dua kali lipat ketimbang hari-hari biasa. ‘’Banyak yang pesan untuk persiapan Lebaran. Ada juga yang buat oleh-oleh,’’ ujarnya.

Pada hari-hari biasa Sukarwati menghabiskan lima kilogram bahan baku gapit setiap produksi. Namun, saat momen Lebaran bisa naik menjadi 10 kilogram. Pun, kesehariannya tidak akan jauh-jauh dari mencampur tepung beras, tepung ketan, gula, garam, telur, dan santan. ‘’Satu kilo adonan, biasanya jadi 120 biji,’’ ungkapnya.

Banyaknya pesanan yang datang berbanding lurus dengan pegal-pegal di badan. Kendati demikian, untung berlipat yang didapat membuat Sukarwati semringah. Pun, dia tidak mau menyia-nyiakan momen Lebaran. Kalau biasanya per kilogram gapit dijual Rp 75 ribu, sekarang Sukarwati mematok harga Rp 100 ribu per kilogram. Tak jarang dia meminta bantuan kerabat maupun tetangga saat pesanan membeludak. ‘’Bulan puasa, Idul Fitri, dan musim manten, yang paling ramai,’’ tuturnya.

Meski berkecimpung dengan kue tradisional, Sukarwati tidak mau ketinggalan zaman. Selain memvariasi bentuk, dia juga bereksperimen dengan rasa. Sukarwati menambahkan rasa wijen dan aroma jeruk ke gapit bikinannya. ‘’Cetakannya saya pakai yang dari tembaga supaya aromanya lebih enak dan tidak mudah lengket,’’ ujar Sukarwati.

Berkat ketekunannya, kue gapit buatan Sukarwati bisa menembus pasar luar daerah. Pelanggan dari Malang, Surabaya, Tulungagung, ajek meminta kiriman dalam tempo waktu tertentu. Gapit bikinan istri Ramin ini juga sudah terbang ke luar negeri. Sejumlah tenaga kerja Indonnesia (TKI) yang pulang kampung kerap memborong gapit untuk oleh-oleh saat balik ke perantauan. ‘’TKW Hong Kong dan Taiwan yang sudah pernah,’’ sebutnya. ***(isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close