Mokong, Izin Waduk Dakon Resort Masih Bodong

27

MADIUN – Investor kolam pemancingan Watu Dakon Resort (WDR) di Desa Banjarsari Wetan, Dagangan benar-benar mokong. Sempat gembar-gembor mengurus online single submissions (OSS) realitanya hanya omong kosong lantaran izinnya masih bodong. Sebab, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Madiun memastikan belum ada pengajuan izin dari Agus Suyanto selaku pemilik usaha kolam pemancingan yang diduga maladministrasi itu. ‘’Kami sudah meminta  (pengusaha, Red), tapi sampai sekarang belum action,’’ terang Agung Budiarto Kabid Penanaman Modal DPMPTSP Kabupaten Madiun.

Agung mengatakan komunikasi dengan Agus Suyanto dilakukan Kamis (28/3) lalu melalui sambungan telepon. Dia menyarankan agar investor segera mengajukan OSS ketika dicurhati masalah pembangunan kolam pemancingan WDR. Persyaratan perizinan via online yang mulai dijalankan tahun lalu itu berupa melengkapi identitas diri hingga akta pendirian perusahaan. Sayangnya, perusahaan Agus belum memiliki kegiatan pariwisata. ‘’Sehingga kami minta untuk melakukan perubahan ke notaris. Dan kami tunggu untuk dapat ditindaklanjuti,’’ ujarnya.

Kata dia,  ada beberapa tahapan yang disarankan untuk mengurus Izin WDR sebagaimana aturan main  yang berlaku. Artinya, jalan di awal yang harus ditempuh investor sebelum memulai sebuah usaha. Dia tidak dapat menjamin terdaftarnya dalam OSS serta merta memuluskan jalan mengantongi izin hingga tanda daftar usaha pariwisata (TDUP). ‘’Karena kan sebelumnya perlu mengantongi rekomendasi UKL-UPL (upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, red) berdasar peninjauan di lapangan,’’ ucapnya.

Sementara Agus Suyanto masih tetap percaya diri (PD) kendati calon usaha barunya suspect maladminitrasi. Sebaliknya dia memaparkan konsep pembangunan wahana kolam pemancingan WDR yang terkesan serampangan. Sebab antara site plan yang dipegang investor dengan kondisi di lapangan jauh berbeda. Mulai dari kedalaman lahan di Desa Banjarsari Wetan, Dagangan, yang dikeruk mencapai 12 meter. Namun, hanya separuhnya atau enam meter yang dimanfaatkan untuk kebutuhan kolam pemancingan. Diperuntukkan untuk apa sisanya? ‘’Ruang tersisa itu akses jalan pemancing yang dindingnya akan dicor dengan hiasan warna-warni,’’ kata Agus Suyanto, pengusaha WDR kemarin (1/4).

Agus menolak disebut tidak efisien kendati ketinggian dinding  nanti mencapai enam meter, klaimnya kondisi itu sesuai rencana awal. Terlepas adanya kesengajaan meningkatkan kedalaman kerukan dari lima meter menjadi 12 meter dengan alasan teknis. Yakni, air cepat terserap ke bawah lantaran kedalamannya masih terpaut jauh dengan titik terendah nol di jalan raya. ‘’Yang berubah hanya posisi pemancingan ini nanti ada di bawah menyesuaikan kedalamannya kerukan,’’ ujarnya.

Kata dia, jarak antara titik tanah eksisting bagian atas dengan dasar mencapai enam meter. Tepat di tengah akan dibangun spot memancing dengan berpagar garis. Ketebalan fondasinya mencapai 20 sentimeter. Di bawahnya adalah kolam dengan isian air sekitar dua meter. Tersisa satu meter antara permukaan air dengan batas spot pemancingan. ‘’Bagian atasnya dilengkapi plengkungan untuk menghindarkan pemancing dari sengatan matahari,’’ ucapnya.

Selain detail potongan kolam, site plan WDS sebanyak 15 lembar berisikan denah dan deatil rencana keseluruhan. Spot pemancingan berada di sisi selatan dan utara. Keduanya dapat tersambung dengan jembatan di sebelah timur dengan suguhan dua pohon besar yang sengaja tidak ditebang. Sedangkan pintu masuk pemancingan di sebelah barat didirikan pendapa. Wahana di atas lahan sekitar lima ribu meter persegi itu dilengkapi musala, gazebo, dan kamar mandi. ‘’Untuk izin kami sedang proses OSS (online single submissions, Red) dan lengkapi syarat-syaratnya,’’ klaim Agus.

Marsudi, pengawas pekerja WDS tidak menampik potensi bahaya calon kolam pemancingan terlalu tinggi. Pihaknya berjanji menerapkan pengamanan ketat dengan membuat pagar garis keliling. Baik di spot memancing, jembatan, atau bagian atas kolam. Pihaknya belum dapat memastikan ketika disinggung ketinggian dan rentang jarak pagar pengaman dengan alasan teknis pada bagian perencanaan. ‘’Nanti juga dilengkapi penjaga yang berkeliling,’’ ucapnya.

Menurutnya konsep kolam pemancingan berskala nasional adalah tidak hanya sekadar mancing biasa. Bakal ada event lomba satu hingga dua kali dalam sebulan. Pesertanya adalah penghobi mancing dari luar daerah. ‘’Sebetulnya sudah mulai penjajakan dan memberi informasi wahana dengan pengusaha pemancingan di Surabaya, Sidoarjo, hingga Bali,’’ sebutnya.   (cor/pra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here