Moh Nurul Huda, Pendakwah yang Mengedepankan Kearifan Lokal

16

PACITAN – Menjabat kepala kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan kian membuat padat jadwal dakwahnya. Hampir setiap hari masjid-masjid di seantero Pacitan disambangi untuk menyampaikan ilmu agama. Keluwesannya berceramah membuat siapa saja terkesima kala menyimak pesan yang disampaikan.

Sesekali tangan Moh Nurul Huda mengepal. Lantang bicaranya. Intonasinya sengaja dinaikturunkan. Sembari terus bercuap kisah nabi, matanya mengamati para jamaah yang duduk menyimak ceramahnya sore itu. Agar tak monoton, dia sengaja mencampur bahasa daerah saat berceramah.

Sebagai penyampai pesan, pria 51 tahun itu yakin semakin paham jamaahnya, ajaran Islam kian mudah dimengerti. Sehingga, kebajikan serta kemuliaan Islam dirasakan masyarakat yang menyimak ceramahnya.  ‘’Syiar Islam tidak boleh mengesampingkan kearifan lokal. Apalagi tiap wilayah di Pacitan ini kaya tradisi, budaya, serta istilah,’’ tuturnya.

Dari mimbar ke mimbar sejak muda membuat Huda semakin matang. Tak hanya jalan mulus beraspal, medan bergunung hingga dasar ngarai pernah dilalui. Suami Kun Haniah Masruroh ini menapaki karir di Kemenag sejak 2000. Tugas pertamanya mengajar di SD Kledung, Bandar. Sebuah desa berjarak 40 kilometer arah utara dari ibu kota Kabupaten Pacitan. Medannya sangat terjal. ‘’Jika dilalui dengan ikhlas, insy Allah ada berkah,’’ yakinnya.

Sebagai insan pendidik, Huda sosok kutu buku. Tak hanya buku agama, referensi ilmu pengetahuan umum pun dilahap. Bapak empat anak ini terus mempelajari ilmu-ilmu baru. ‘’Salah satu cara meng-upgrade pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itu setiap mau memberik ceramah saya usahakan membaca buku. Buku apa pun yang sesuai tema,’’ ujarnya.

Ramadan menjadi bulan tersibuk penyandang gelar doktor bidang manajemen pendidikan ini. Jadwal ceramah seakan tanpa jeda. Tidak hanya di masjid-masjid, namun juga di media massa. Huda punya kiat sederhana. Beribadah semestinya ditempatkan sebagai kebutuhan.

Dengan begitu tak ada keterpaksaan apalagi keberatan. Terlebih jika menyadari besarnya pahala yang dijanjikan Allah pada bulan suci ini. ‘’Kalau tidak makan dan minum, maka kita merasa lapar. Sebab itu merupakan kebutuhan. Sama halnya ibadah. Jika kita menganggapnya kebutuhan pasti ada yang kurang jika belum menunaikannya,’’ pungkasnya.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here