Misno Jalankan Pelatihan Kerajinan Batu Gratis Selama 10 Tahun

27
BAGI ILMU: Misno (kanan) melatih salah seorang tetangganya membuat tungku batu.

Sebagai perajin batu, Misno punya andil mengurangi angka pengangguran di Desa Jeruk, Bandar, Pacitan. Keterampilannya ditularkan kepada para tetangganya itu lewat pelatihan cuma-cuma. Seperti apa kisahnya?

—————-

DENI KURNIAWAN, Bandar, Jawa Pos Radar Pacitan

ADA nama Misno di balik melimpahnya sumber daya perajin batu di Dusun Watu Kudi, Jeruk, Bandar, Pacitan. Dia menularkan ilmu membuat tungku batu kepada para tetangganya. Pelatihan tanpa biaya itu membuat beberapa anak didiknya bisa membuka usaha sendiri. ‘’Mengurangi angka pengangguran,’’ kata Misno.

Warga yang mengikuti pelatihan bisa dihitung jari ketika dimulai 2009 silam. Jumlahnya meningkat menjadi 30 orang tiga tahun berselang. Misno mengajarkan cara menaksir presisi, teknik pahat, hingga finishing. Bagi hasil diterapkan ketika produk buatan anak buahnya laku. ‘’Training cuma-cuma ini dilatarbelakangi banyaknya warga yang menganggur,’’ ujar pria 41 tahun itu.

Misno adalah warga yang kali pertama membuka usaha rumahan kerajinan batu pada 2002. Tidak hanya tungku, dia bisa membuat cobek, pot bunga, aksesori taman, dan nisan. Generasi sebelumnya, batu dari tambang hanya bisa dibuat menjadi tungku. Alat bantu memasak itu juga untuk keperluan pribadi, belum sampai dikomersialkan. ‘’Kemudian dijual keliling dari satu rumah ke lainnya,’’ imbuhnya.

Bapak satu anak ini awalnya memiliki kemampuan membuat tungku batu pada 1999. Saat itu dia bekerja sebagai kuli panggul batu di lokasi penambangan. Karena ada banyak bahan, dia belajar otodidak membuat tungku. Tidak hanya teknik, tapi memahami karakter batu. ‘’Saya pernah gagal usaha mebel kayu,’’ ungkapnya.

Tempat produksi Misno kerap menjadi jujukan mahasiswa perguruan tinggi negeri melakukan penelitian. Seperti Malang, Surabaya, Solo, dan Jogjakarta. Seorang dosen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya menjadikannya sebagai narasumber tiga tahun lalu. Pelajaran berharga didapatkan dari sosok intelektual itu. Yakni, pemanfaatan limbah batu sebagai bahan baku pembuatan paving. ‘’Saya coba, bisa, dan jadi. Tapi, karena tidak bisa menjual, akhirnya berhenti,’’ katanya. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here