Misimun, Perajin Kulit Sepanjang Masa

89

Misimun, segelintir perajin kulit yang masih bertahan di Ponorogo. Berawal dari membantu produksi kerajinan milik kakaknya, akhirnya memutuskan buka usaha sendiri. Keuletan berproduksi mengantarkan karyanya tembus luar Jawa.

————–
TOKO sepatu milik Misimun di Desa Karanglo Lor, Kecamatan Sukorejo, tidak besar. Sejumlah sepatu model kantoran tertata apik di tiga etalase toko yang juga menjadi tempat tinggal itu. Sebagian halaman depan dijadikan tempat penjemuran sol. Sejumlah peralatan jahit juga di dalam toko. Menegaskan bahwa si pemilik rumah adalah perajin sepatu, sandal, dompet, dan sabuk dari kulit. ‘’Untuk acara resmi, sepatu kulit tetap andalan,’’ kata Misimun.

Melangkah ke dalam, suasana bak pabrik kental terasa. Dibantu istri dan seorang karyawan, Misimun sibuk mengerjakan sejumlah pesanan. Mereka berbagi tugas. Mulai bagian membuat pola, memotong dan menjahit, hingga bagian pengeleman. Sebab, pesanan diakui Misimun deras mengalir. Misimun mengadopsi model terbaru agar tidak ketinggalan. Sebagian calon pembelinya membawa model sendiri. ‘’Alas kaki itu sudah seperti baju. Disesuaikan dengan waktu, tempat, dan acara. Jadi tidak kaget kalau punya lebih dari satu pasang,’’ ujarnya.

Berbagai model sepatu dan sandal pernah dibuatnya. Baik model pria maupun perempuan. Pantang baginya menolak pesanan dari calon pembeli. Sekalipun model pesanan terbilang tidak wajar. Pernah suatu waktu dia mendapat pesanan sepatu kantor perempuan dengan hak setinggi tujuh meter. Pun, calon pembeli menambahkan aksesori di bagian atas sepatu. Justru dari situlah dia merasa tertantang untuk membuat model baru tersebut. ‘’Padahal belum pernah membuat seperti itu sebelumnya. Tapi semua dapat dikerjakan asalkan mau mencoba dan berusaha,’’ tutur pria 42 tahun itu.

Dalam setiap mengerjakan sepatu pesanan, Misimun selalu memperhatikan setiap detail proses pengerjaaan. Mulai pemotongan kulit, membentuk sesuai mal, hingga proses pengeleman dan penjahitan. Biasanya dia rajin membuat mal model sepatu dari kertas karton. Mal tersebut disimpan ketika suatu saat ada calon pembeli ingin dibuatkan sesuai dengan mal yang telah dibuatnya. Sementara urusan jahit, dia serahkan kepada Somiati, istrinya. Tidak heran jika sepatu produksi Misimun nyaman dipakai. ‘’Kuncinya harus teliti dalam setiap proses pengerjaan,’’ ungkapnya.

Misimun menggeluti dunia perajin kulit sejak 1993. Awalnya dia hanya ikut membantu di rumah produksi kulit milik kakaknya. Setelah sepuluh tahun, dia mencoba mandiri. Perlahan, usahanya mulai ramai. Dikenal banyak orang mulai daerah setempat hingga luar pulau. Hingga kini, sepatu produksinya sudah merambah pasar Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. ‘’Intinya mau berusaha, hasil pasti mengikuti. Berhasil atau tidak itu urusan belakangan, yang penting yakin,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here