Miris, Kasus yang Ditangani DP2KBP2A Didominasi Kekerasan Seksual

126

MADIUN – Kasus yang ditangani Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP2KBP2A) Kabupaten Madiun didominasi kekerasan seksual.

Kabid Pemberdayaan-Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) DP2KBP2A Kabupaten Madiun Widiasih Murtamengrum menguraikan, dominasi kekerasan seksual itu dua per tiga dari 18 kasus yang ditangani sepanjang tahun lalu. Persisnya, 14 kasus. Sisanya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan anak berhadapan dengan hukum (ABH). ‘’Kekerasan seksual itu mulai pelecehan hingga persetubuhan,’’ katanya.

Widi –sapaan Widiasih– menyebut, pelakunya dari ragam kalangan. Baik anak maupun dewasa, sama banyaknya. Kendati, belasan kasus itu cenderung turun setiap tahun. Bukan mengindikasikan kasusnya berhasil diredam. Sebab, kekerasan seksual ibarat fenomena gunung es. Tidak menutup kemungkinan, ada kasus lain yang sengaja tidak dilaporkan pihak berwenang. Tertutup paradigma masyarakat yang menganggap hal itu tabu. ‘’Ada yang disetubuhi ayah kandung sejak usia lima tahun sampai SMA. Korban akhirnya memberanikan diri untuk melapor,’’ ujarnya.

Kecenderungan selama ini, kasus itu terjadi di keluarga tidak mampu. Meski tidak bisa dijadikan pembenaran, tapi kondisi kurang beruntung itu diakui rentan memicu kekerasan seksual. Kaitannya ada pada pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki seseorang. Selain, pihak yang terlibat memiliki riwayat hubungan keluarga yang tidak baik. Misalnya, sejak kecil tidak diasuh oleh orang tua kandung. Selain karena perceraian orang tua, juga bekerja luar kota atau negeri. ‘’Intinya tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua. Akibatnya salah pergaulan,’’ paparnya.

Widi menambahkan, imbas kekerasan seksual bagaikan roda berputar. Tidak hanya korban yang merasakan penderitaannya, melainkan sampai keturunannya. Penyebabnya karena lingkungan yang mengucilkan atau kalangan yang masih sering mengungkit masa lalu. Kasus semacam itu kerap menghiasi laporan yang masuk ke tempatnya. Kerja tim pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (TP2TP2A) pun sangat kompleks. Tidak sekadar memberikan pendampingan lewat pekerja sosial (peksos) atau psikolog. ‘’Lintas sektoral,’’ tegasnya.

Penanganannya lebih mengutamakan langkah preventif dari lingkup keluarga dan sekolah. Bila timbul kasus yang terbilang baru, dilakukan pencegahan dari sisi rehabilitasi sosial (rehabsos) agar tidak melebar. Kemudian ada treatment pasca-rehabsos. Misalnya, pelajar yang hamil. Pihaknya memikirkan masa depan pendidikan korban. ‘’Yang terpenting adalah memenuhi apa yang menjadi hak korban,’’ tekannya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here