Miris, Dua Balita Tertular HIV/AIDS

110

PONOROGO – Kasus HIV/AIDS di Ponorogo semakin membuat bergidik. Bagaimana tidak, selain menjangkiti orang dewasa, sejumlah anak tertular penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu. Catatan dinas kesehatan (dinkes) setempat, saat ini terdapat dua anak dengan HIV/AIDS (ADHA).

Meski begitu, jumlah kasus ADHA sesungguhnya dimungkinkan jauh lebih banyak. Sebab, dua anak yang tertular tersebut hanya yang terdeteksi di layanan kesehatan. ‘’Dua kasus itu temuan tahun ini. Usianya di bawah dua tahun,’’ kata Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes dr Yayuk Kuswardini, Jumat (30/11).

Menurut dia, dua kasus ADHA itu menunjukkan bahwa HIV tidak hanya bisa menjangkiti golongan risiko tinggi (risti) yakni penjaja seks. Melainkan juga bisa menyerang ibu rumah tangga (IRT). ‘’Anak yang terkena HIV kebanyakan tertular langsung dari si ibu,’’ ujarnya.

Yayuk mengatakan, salah satu cara mencegah penularan HIV dari ibu ke anak adalah dengan menggalakkan program prevention of mother to child transmission (PMTCT) atau pemeriksaan semua ibu hamil. Itu sesuai instruksi pemerintah melalui Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan Nomor 129 Tahun 2013. ‘’Sekarang ibu hamil pada trimester pertama sudah harus diperiksa HIV. Itu akan menyelamatkan kandungan jika memang positif,’’ tuturnya.

Pemeriksaan kehamilan tersebut, kata dia, bisa dilakukan di RSUD dr Harjono. Pun, dinkes melalui puskesmas menjalankan PMTCT. Jika ditemukan ibu hamil positif HIV, pihak rumah sakit segera memberikan terapi antiretroviral (ARV) selama kehamilan. Dengan begitu, ketika lahir dengan cara Caesar, bayi tidak tertular. ‘’Virusnya ditekan hingga tidak terdeteksi,’’ terang Yayuk.

Pihaknya tak menampik bahwa kasus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Karena itu, kegiatan VCT terus dilakukan. Tidak hanya pada ibu hamil, pihak rumah sakit harus juga dituntut melakukan pemeriksaan pada pasien tuberkulosis (TBC). ‘’Karena saat ini banyak kasus HIV yang ditemukan dengan infeksi oportunistik atau infeksi yang mengambil kesempatan pada kerusakan imun manusia,’’ bebernya.

Di sisi lain, Yayuk meminta masyarakat tidak mengucilkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Dia tidak ingin kasus yang sempat terjadi di Japan, Babadan, terulang. Saat itu, warga setempat takut dan enggan memandikan jasad tetangga mereka yang meninggal karena terinfeksi virus HIV/AIDS. ‘’Padahal, HIV tidak mudah menular begitu saja. Penyebaran penyakit hanya lewat transfusi darah, air mani, dan air susu ibu. Selama tidak melakukan ketiga hal itu, kita aman,’’ kata Yayuk.

Berdasarkan data dinkes, jumlah kasus HIV/AIDS di Ponorogo sepanjang tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi. Pada 2016 tercatat ada 100 penderita. Dari jumlah tersebut, 14 di antaranya meninggal. Sedangkan pada 2017, ODHA baru yang ditangani dinkes sebanyak 134. Sementara, sepanjang tahun ini ada 78 penderita. (her/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here