Miras Beredar di Karaoke Keluarga

248

KOTA – Sudah tidak bisa berkutik. Empat botol isi minuman keras (miras) jenis arak jowo (arjo) ditemukan tim gabungan berada di gudang salah satu tempat karaoke keluarga di kompleks Suncity Festival, Sabtu (22/12). Temuan itu selanjutnya disegel pihak Bea Cukai Madiun. ’’Kami akan tindak lanjuti sesuai peraturan perundang-undangan,’’ kata Kabid Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Madiun Agus Wuriyanto.

Dia menjelaskan, tempat karaoke berlantai dua tersebut sejatinya mempunyai izin lengkap. Mulai SIUP (surat izin usaha perdagangan), IMB (izin mendirikan bangunan), hingga TDUP (tanda daftar usaha pariwisata). Namun, petugas gabungan satpol PP, bea cukai, TNI, dan Polri tidak lantas percaya. Sejumlah anggota satpol PP kemudian berinisiatif menyasar bagian gudang. Benar saja, di tempat tersebut mereka mendapati miras jenis arjo yang dikemas dalam empat botol air mineral. ‘’Diduga dijual ke pengunjung,’’ ujar Agus.

Razia malam itu dimulai pukul 21.00. Lokasi pertama yang disasar adalah sebuah karaoke family di depan Balai Kota Madiun. Petugas memeriksa gudang penyimpanan minuman beralkohol (minol) tempat tersebut. Hal serupa juga dilakukan petugas ketika menyambangi tempat hiburan malam (THM) di Jalan Bali dan Jalan Taman Praja. ’’Total ada 12 tempat hiburan malam yang kami kunjungi untuk dilakukan penertiban,’’ terang Agus.

Di sejumlah THM dan karaoke tersebut, Agus beserta anggota selalu menanyakan kelengkapan surat izin tempat hiburan. Hasil pemeriksaan, semua dokumen lengkap sesuai izin usaha yang dikeluarkan. Menurut dia, operasi penertiban itu dilakukan untuk antisipasi sekaligus memastikan bahwa seluruh THM tidak menjual miras ilegal. Agus menyatakan pihaknya akan terus melakukan penertiban. Dia menyarankan agar para pengusaha tempat hiburan tersebut bisa segera melengkapi perizinan. ‘’Ini sekaligus mengantisipasi peredaran miras ilegal menjelang Natal dan tahun baru (Nataru) 2019,’’ ungkapnya.

Sekda Kota Madiun Rusdiyanto mempersilakan sejumlah pengusaha THM membuka usaha mereka saat Nataru. Namun, dia menekankan agar operasional usaha atau hiburan yang disajikan saat libur Nataru tidak melanggar peraturan perundang-undangan maupun norma asusila. ‘’Tentunya harus berpedoman pada aturan yang berlaku,’’ kata mantan kepala BPKAD Kota Madiun tersebut.

Sebelumnya, Rusdiyanto mengaku sempat mendengar informasi terkait adanya penyelenggaraan hiburan yang dianggap tidak sesuai dengan budaya masyarakat Kota Madiun. Karena itu, pihaknya mendorong satpol PP sebagai petugas penegak perda untuk melakukan operasi penertiban di sejumlah THM. ’’Kalau bisa sejumlah THM itu membuat acara (hiburan) saat pergantian tahun baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan tidak melanggar aturan perundang-undangan,’’ jelasnya. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here