Madiun

Minus Pendapatan, Daya Beli Masyarakat Turun

Melambat Ekonomi Ancam Resesi

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun  – Pertumbuhan ekonomi hingga Juli kemarin negatif. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat di bulan itu kota ini mengalami deflasi sebesar 0,04 persen. Seiring penurunan yang juga terjadi di Jawa Timur dengan catatan deflasi sebesar 0,29 persen. Secara nasional, deflasi mencapai 0,10 persen. ‘’Deflasi ini tersebab turunnya beberapa harga pokok karena minat beli masyarakat juga turun,’’ kata Kepala BPS Kota Madiun Umar Sjaifudin Kamis (6/8).

Keterbatasan aktivitas perekonomian karena pandemi menjadi penyebab utamanya. Sampai kini, masih banyak perusahaan yang merumahkan pekerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Itu membuat pendapatan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ikut berkurang. Pendapatan masyarakat turun, permintaan juga turun. ‘’Sampai kini masyarakat masih membatasi konsumsi sehingga mengakibatkan turunnya daya beli,’’ tuturnya.

Bahkan, Idul Adha kemarin tak berperan signifikan dalam menaikkan daya beli masyarakat. Dalam catatan BPS, inflasi tahun lalu bisa mencapai 0,17 persen. Jika dibandingkan Juni lalu, turunnya sekitar 0,24 persen. ‘’Juni lalu, perekonomian kita masih cukup baik dengan angka inflasi sebesar 0,20 persen,’’ terangnya.

Catatan BPS Pusat, petumbuhan perekonomian pada kuartal kedua cukup negatif. Bahkan, menjadi yang terburuk selama dua dekade terakhir. ‘’Jika terus-menerus turun memang bisa mengalami resesi. Tapi, kita tidak tahu pertumbuhan perekonomian Agustus ini. Kita tunggu saja,” tuturnya.

Turunnya harga dari beberapa komoditas yang cukup signifikan turut menyumbang deflasi. Seperti harga bawang merah yang persentasenya turun dari 12,03 persen menjadi -0,06 persen. Bawang putih dari 16,25 persen menjadi -0,034 persen. Beras turun dari 0,98 persen menjadi -0,032 persen. Ayam ras turun 2,50 persen menjadi -0,028 persen dan gula pasir dari 5,17 persen menjadi -0,023 persen. ”Dari delapan kota/kabupaten penghitung inflasi di Jawa Timur, Kota Surabaya mengalami deflasi yang cukup parah, yakni 0,41 persen,’’ sebutnya.

Statistik BPS itu dibenarkan pedagang di Pasar Besar Madiun (PBM). Muklas, salah seorang pedagang sayuran, mengaku masih belum merasakan adanya pembelian signifikan selama masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini. ‘’Idul Adha kemarin tetap sepi,’’ ungkapnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close