Minta Mendagri Mundur, Fadli Zon: Ini Memalukan

213

JawaPos.com – Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menilai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo telah gagal dalam urusan e-KTP. Dalam setahun, ada empat kejadian yang berkaitan dengan e-KTP.

Tiga adalah e-KTP tercecer dan satu adalah penjualan blanko kartu identitas itu secara online.

“Saya kira saudara Tjahjo Kumolo sebaiknya mengundurkan diri saja. Ini enggak becus mengurus masalah e-KTP, mengurus DPT dan juga mengurus data-data kependudukan. Ini masalah-masalah basic kok. Selama 4 tahun ini ngapain aja,” ujar Fadli di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/12).

‎Menurut Fadli, di negara-negara lain tidak ada kasus tercecernya kartu identitas kependudukan. Mereka sudah sangat baik dalam hal pengelolaannya.

“Coba lihat saja deh di negara-negara lain, di negara yang paling terbelakang sekalipun. (Sementara di Indonesia) data penduduk itu sudah seperti apa ya, sampah. Berkarung-karung tercecer di berbagai tempat ini memalukan,” katanya.

Sekadar informasi, ‎sepanjang tahun 2018 ini setidaknya empat kali masyarakat heboh dengan permasalahkan e-KTP. Masalah itu mulai dari tercecernya e-KTP di tiga kota, hingga ke penjualan blanko.

JawaPos.com mengumpulkan data-data kasus terecernya e-KTP dan juga pernjualan blanko kartu identitas tersebut. Berikut daftarnya:

1. e-KTP tercecer di ‎Bogor

26 Mei 2018. Ribuan e-KTP tercecer di Simpang Salabenda, Desa Parakansalak, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Kejaditan tercecernya e-KTP itu lantaran terjatuh dari truk, hingga akhirnya ditemukan warga setempat.

Dirjen Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Zudan Arif Fakrullih mengatakan e-KTP yang tercecer itu jumlahnya sekira 6.000.

Semua e-KTP yang tercecer tersebut telah rusak secara fisik, misalnya terkelupas, data tidak lengkap, salah nama dan sobek.

‎2. Ribuan e-KTP tercecer di tempat pembuangan sampah di Serang, Banten

11 September 2018. e-KTP dan sembilan kartu keluarga (KK) ditemukan tercecer di tempat pembuangan sampah dan semak di Desa Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Totalnya adag 2.901 lembar e-KTP yang ditemukan warga.

Adapun 2.901 yang tercecer adalah 513 KTP manual alias masih belum e-KTP, kemudian 111 e-KTP yang rusah secara fisik.

Kala itu Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo langsung membuat instruksi supaya e-KTP yang telah rusak dilakukan pemotongan. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kecurigaan e-KTP itu digunakan untuk pemilu.

‎3. Penjualan blanko e-KTP secara online

6 Desember 2018. ‎Kementerian Dalam Negeri menemukan praktik penjualan blanko e-KTP yang dilakukan secara online. Si penjual diketahui adalah anak pejabat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Provinsi Lampung.

Dirjen Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Zudan Arif Fakrulloh mengaku anak mantan pejabat tersebut menjual blanko e-KTP hanya iseng. Dia menagaskan tidak ada pencurian dan jebolnya sistem di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Penjualan itu tidak terkait dengan pemilu, dan anak tersebut menjual 10 blanko e-KTP dengan harga Rp 500 ribu. Saat ini pelaku telah dilaporkan ke pihak kepolisian yang didiga melanggar Pasal 96 UU Nomor 24/2013 tentang Administrasi Kependudukan. Acaman pidananya pun paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar

4. Ribuan e-KTP ditemukan tercecer di Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta

8 Desember 2018. ‎Ribuan e-KTP ditemukan tercecer di area persawahan kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur. Kartu e-KTP ini tercecer dan sempat dimainkan anak-anak sebelum akhirnya diketahui oleh Ketua RW setempat.

Dilihat dari domisili pada identitas e-KTP tersebut tercantum alamat Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, kelurahan yang sebenarnya tidak begitu jauh dari Pondok Kopi.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta Dhany Sukma mengatakan, e-KTP yang ditemukan di Pondok Kopi merupakan cetakan lama.

(gwn/JPC)

 

Artikel asli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here