Minimalisasi Bahaya Tradisi Balon Udara

21
TANPA AWAK: Petugas menumpuk balon udara hasil razia di Mapolsek Somoroto. Tradisi balon udara tetap diakomodasi dengan festival yang dihelat hari ini.

PONOROGO – Animo peserta Festival Balon Udara yang akan dihelat Rabu (12/6) menurun. Hingga berita ini ditulis pukul 17.00, kemarin (11/6), jumlah pendaftar 54 balon udara. Tahun lalu, dihadiri 60 peserta dari total 80 pendaftar.

Somad (bukan nama sebenarnya, Red), yang dulu menjadi motor penggerak tradisi balon udara di desanya menilai festival ini tetap menarik. Terlebih, untuk mengakomodir upaya melestarikan tradisi turun-temurun setiap lebaran. ‘’Cukup baik, langkah dari pemerintah,’’ kata dia.

Hanya, dia menyayangkan pelaksanaan festival yang dibatasi oleh beberapa aturan. Utamanya, diterbangkan tanpa sumbu api. Hanya diterbangkan dengan tambatan tali. ‘’Itu menghilangkan esensi tradisi balon udara,’’ lanjutnya.

Dia memberikan masukan agar aturan pelaksanaan festival direvisi. Misalnya, balon udara tetap boleh diterbangkan menggunakan sumbu api. Dengan tetap ditambatkan tali dan dibatasi terbangnya pada ketinggian tertentu. Sehingga warga tetap menikmati tradisi balon udara tanpa risiko. ‘’Tahun lalu ikut tapi capek karena balonnya cepat jatuh sehingga harus mengejar balon dan menerbangkan kembali,’’ ungkapnya.

Tetapi, usulan itu membentur dinding Permenhub RI PM 40/2018. Terutama pada pasal 8 yang mengatur balon udara harus ditambatkan minimal menggunakan tiga tali dan tidak boleh dilengkapi peralatan atau bahan yang mengandung api, mudah meledak, dan atau bahan yang membahayakan lingkungan.

Kapolres Ponorogo AKBP Radiant mengatakan seluruh aturan dalam festival balon udara berjalan sesuai aturan yang ada. Festival ini mengakomodasi tradisi balon udara yang sebelumnya diterbangkan liar tanpa awak. ‘’Dengan festival ini perlahan balon udara liar dapat berkurang,’’ kata Radiant.

Menanggapi animo pendaftar yang menurun, dia mengungkapkan pendaftaran masih dibuka hingga jelang pelaksanaan festival pukul 06.00, hari ini. Pun, kata dia, beberapa peserta telah mengirimkan informasi bakal mendaftar di injury time. ‘’Dari Jambon dan sekitarnya sudah berkabar hendak mendaftar jelang festival,’’ lanjutnya.

Radiant menjelaskan menurunnya minat warga seiring dengan menurunnya jumlah balon udara liar yang diterbangkan saat Lebaran. Hasil razia yang dilakukan petugas hingga saat ini mencapai 59 balon udara. Baik yang ditangkap saat hendak diterbangkan maupun balon yang jatuh. ‘’Razia merata di seluruh kecamatan. Paling banyak di wilayah barat,’’ lanjutnya.

Hasil razia pun menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 125 balon udara. Kendati, diakuinya masih saja ada yang nekad menerbangkan balon udara liar tanpa awak. Padahal pihaknya telah mencatat tahun ini sedikitnya ada empat kejadian balon udara menimpa rumah. ‘’Beruntung petugas segera bertindak sehingga tidak menyebabkan kebakaran,’’ ungkapnya.

Dia pun menegaskan, penerbangan balon udara liar tanpa awak melanggar UU Nomor 1/2009. Melihat dampaknya, ancaman hukuman maksimalnya tiga tahun. ‘’Ketika jatuh menimpa rumah ataupun lahan hutan dengan keadaan sumbu menyala bisa menyebabkan kebakaran,’’ tegasnya.

Mengantisipasi adanya balon udara liar yang diterbangkan saat festival pihaknya telah menyiapkan personil khusus di setiap polsek. Personil yang bertugas melakukan patroli di wilayah hukum masing-masing. Ditambah 90 personil gabungan. ‘’Dari kami 54 personil ditambah 30 personil dari TNI. Kami berharap acara lancar dan sukses,’’ ucapnya. (mg7/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here