Minim Lahan Parkir Menyulut Masalah di Sarangan

177
DCIM100MEDIADJI_0148.JPG

MAGETAN – Setiap wisatawan Telaga Sarangan merasakan hal yang sama. Susah mencari lahan parkir. Maklum, pemerintah setempat kesulitan menambah kantong parkir di seputar objek wisata tersebut. Sejauh ini, hanya dua titik milik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Magetan.

Kapasitasnya pun tak sebanding dengan jumlah pengunjung. Terutama, saat hari libur. Meluber ke mana-mana hingga mengganggu kenyamanan pengunjung. Bagi yang tidak kebagian tempat, harus rela parkir di lokasi lain. Lebih jauh. Lebih mahal!

Dua kantong parkir yang dimiliki pemkab berada di barat Hotel Sanur dan timur Hotel Rejeki. Kantong parkir di barat Hotel Sanur hanya mampu menampung sekitar 50 mobil atau 200 sepeda motor. Sedangkan kantong parkir timur Hotel Rejeki lebih luas. Mampu menampung 150 mobil dan 600 sepeda motor. Nyatanya, masih belum cukup. ’’Sering overload, di hari–hari tertentu,’’ kata Kabid Pariwisata Disparbud Magetan Hadi Sumarno.

Masalah kian pelik jika menilik jenis kendaraan para wisatawan. Bus pariwisata yang umumnya mengangkut wisatawan dari instansi atau sekolah, terpaksa parkir di Terminal Sarangan. Jika benar-benar padat, bus dan kendaraan lainnya terpaksa diparkir di lapangan. Boleh dikata, fasilitas yang disediakan di Telaga Sarangan masih jauh dari layak. Padahal, selalu dipromosikan menjadi andalan Magetan. ’’Tapi, tidak setiap hari penuh (kantong parkir di Sarangan, Red),’’ kelitnya.

Hadi mengklaim sudah berupaya memperbanyak kantong parkir. Senyatanya, dia pun mengaku kesulitan. Sebab, lahannya terbatas. Tak satu pun warga di Kelurahan Sarangan bersedia menjual lahannya untuk kepentingan publik. Pendekatan yang dilakukan tak membuahkan hasil. Sekalipun mereka bersedia menjual, harganya selangit. ’’Pendekatan sudah, tapi tidak ada yang mau jual,’’ ungkapnya.

Satu–satunya jalan keluar adalah tanah kas desa (TKD). Aset itu tidak membutuhkan pembebasan lahan jika digunakan sebagai kantong parkir. Disparbud masih menginventarisasi TKD di sekitaran telaga. Kebutuhannya memang masih belum ditentukan seberapa luasnya. Bagi Hadi, yang terpenting ada lahan terlebih dahulu untuk disiapkan sebagai kantong parkir tambahan. ’’Kami sedang mencari cara untuk mendapatkan lahan,’’ klaim Hadi.

Jika ada kantong parkir baru, pendapatan asli daerah (PAD) dari Telaga Sarangan bakal semakin besar. Retribusi dari jasa parkir akan lebih banyak. Tahun ini, disparbud ditarget PAD sebesar Rp 13 miliar. Baru sekitar 80 persen yang masuk ke kas daerah (kasda). Bisa dipastikan target itu meningkat tahun depan. Sehingga semua potensi harus dimaksimalkan. ’’Ada juru parkir, hasilnya langsung disetor ke DPPKAD (dinas pendapatan, pengelola keuangan, dan aset daerah, Red),’’ katanya.

Untuk sementara, lantaran belum bisa menyediakan kantong parkir tambahan, kantong parkir timur dipermak. Anggaran Rp 750 juta dikucurkan untuk membangun parkir bertingkat. Di lantai dasar, akan dilengkapi toilet. Sehingga pengunjung tidak perlu repot-repot mencari toilet umum. Tahun ini, pengerjaan lanjutan area parkir itu ditarget tuntas. ’’Saat ini sudah finishing. Tinggal sedikit lagi sudah 100 persen,’’ jelasnya. (bel/naz/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here